Selasa, 23 Desember 2014

Rindu yang menyakitkan



Merindukan keberadaanmu.
Seharusnya hal itu tak lagi aku rasakan. Karna dulu merindukanmu tak sesakit seperti saat ini, saat jalan yang kita pilih kini telah berbeda, membuat aku tak lagi dapat menyalurkan rasa rindu yang terpendam. Rasa yang dulu pernah ada, kenyamanan yang dulu pernah ku dapat, dan kenangan yang dulu pernah tercipta, ingin rasanya semua itu ku kubur rapi dengan sebuah keIkhlasan. Namun semua itu tak semudah dengan apa yang telah tercipta. Begitu tulus rasa yang dulu pernah ku beri untukmu, namun kau buat semua tampak tak ternilai di hatimu.
Perlakuanmu begitu terasa menyakitkan, sehingga rasanya kau bukanlah seseorang yang dulu ku kenal. Namun karena rasa ini tulus untukmu, hingga rasanya aku sulit untuk membencimu.
Kini jarakmu teramat jauh denganku, kita tak lagi bertegur sapa sedikitpun. Mengapa kau harus membenciku? Disini yang merasa tersakiti bukan hanya kau seorang, akupun merasakannya. Lalu mengapa kita tak saling mendo’akan saja? Belajar saling mengIkhlaskan, tanpa harus putus silahturahmi. Bukankah itu membuat kita menjadi lebih dewasa?
Jika pada akhirnya kau memilih untuk membenciku, aku lebih baik tak di pertemukan denganmu sebelumnya. Tak ada seorangpun yang hidupnya ingin di benci oleh orang lain, terlebih oleh orang yang mereka sayang.

Awalnya tak pernah pikiranku terbesit akan sesakit ini denganmu, namun waktu telah membuktikan semuanya.

Kamis, 18 Desember 2014

Fallin in Love?



Jika kesan pertama ketika melihat seorang pria, aku merasakan jantung ini berdegub kencang tanpa alasan yang jelas, kemudian bibir ini tertarik untuk tiba-tiba tersenyum, dan entah darimana timbul rasa bahagia bagaikan dalam perut ini terdapat banyak sekali kupu-kupu yang mengelitik. Maka dapat di pastikan bahwa aku sedang Jatuh Cinta.
Yaaah…walaupun saat ini aku belum merasakannya kembali, tapi aku yakin suatu saat nanti perasaan itu akan ku rasakan kembali oleh Pria yang tepat.
Salahkah jika saat ini aku menolak seseorang yang memiliki perasaan kepadaku? Apakah itu artinya aku telah menyianyiakan seseorang yang menyayangiku? Lalu, bagaimana jika aku tak merasakan tanda-tanda “Jatuh Cinta” itu dan aku tak memiliki perasaan yang sama kepadanya? Apa kini aku tetap salah untuk menolaknya?
Maafkan aku. Ini adalah jalan satu-satunya agar hati masing-masing dari kita tak ada yang terluka lebih dalam lagi.
Karena yang ku tau cinta itu tak dapat di paksakan, dan sesuatu yang dipaksakan tidak akan berakhir dengan baik.
Saat ini, selain belum ada pria yang tepat yang bisa membuatku merasakan kembali tanda-tanda “Jatuh Cinta” itu, mungkin juga karena hati ini yang masih belum siap menerima seseorang yang baru..hehehe. Hati ini masih dalam perbaikan.
Begitu sempurnanya luka yang diberikan oleh seseorang yang sebelumnya pernah ada di hati ini, sehingga membutuhkan waktu yang (mungkin) lumayan lama untuk mengobatinya sendiri.
Tetapi banyak hal positif yang aku dapat. Dengan begitu aku akan lebih berhati-hati untuk mencintai seseorang, kelak takkan ku biarkan seseorang kembali melukai hati ini.