Merindukan keberadaanmu.
Seharusnya hal itu tak
lagi aku rasakan. Karna dulu merindukanmu tak sesakit seperti saat ini, saat jalan yang kita
pilih kini telah berbeda, membuat aku tak lagi dapat menyalurkan rasa rindu
yang terpendam. Rasa yang dulu pernah ada, kenyamanan yang dulu pernah ku
dapat, dan kenangan yang dulu pernah tercipta, ingin rasanya semua itu ku kubur
rapi dengan sebuah keIkhlasan. Namun semua itu tak semudah dengan apa yang telah
tercipta. Begitu tulus rasa yang dulu pernah ku beri untukmu, namun kau buat
semua tampak tak ternilai di hatimu.
Perlakuanmu begitu terasa
menyakitkan, sehingga rasanya kau bukanlah seseorang yang dulu ku kenal. Namun karena
rasa ini tulus untukmu, hingga rasanya aku sulit untuk membencimu.
Kini jarakmu teramat jauh
denganku, kita tak lagi bertegur sapa sedikitpun. Mengapa kau harus membenciku?
Disini yang merasa tersakiti bukan hanya kau seorang, akupun merasakannya. Lalu
mengapa kita tak saling mendo’akan saja? Belajar saling mengIkhlaskan, tanpa
harus putus silahturahmi. Bukankah itu membuat kita menjadi lebih dewasa?
Jika pada akhirnya kau
memilih untuk membenciku, aku lebih baik tak di pertemukan denganmu sebelumnya.
Tak ada seorangpun yang hidupnya ingin di benci oleh orang lain, terlebih oleh
orang yang mereka sayang.
Awalnya tak pernah pikiranku
terbesit akan sesakit ini denganmu, namun waktu telah membuktikan semuanya.