PAMALI DAN
MITOS JAWA
PENDAHULUAN
Indonesia
terkenal dengan keanekaragaman budayanya, itu sebabnya manusia dan kebudayaan
merupakan satu hal yang tidak dapat dipisahkan. Manusia terlibat dengan
kebudayaannya sesuai dengan tempat mereka menetap atau daerah yang di
tinggalinya. Kebudayaan itu dikembangkan secara turun menurun kepada anak-anak dan
cucu mereka agar kebudayaan tersebut tidak mengalami kepunahan. Istilah
kebudayaan mengacu pada keyakinan, ideologi, dan mitos. Ini yang disebut elemen
spiritual dan psikologis kebudayaan.
Di
jaman yang semakin modern ini, Indonesia masih dapat menunjukan ciri khas
keanekaragaman budayanya, sehingga tidak heran banyak turis-turis atau warga
asing yang berkunjung ke Indonesia untuk dapat menikmati kebudayaan atau bahkan
mencoba untuk mempelajarinya. Tidak hanya kebudayaan berupa karya seni, sastra,
tardisi, atau legenda, selain itu juga warga Indonesia memiliki kebudayaan
tentang kepercayaan Pamali dan Mitos yang merupakan materi yang akan saya bahas
disini.
Biasanya
kepercayaan Pamali dan Mitos ini sangat di yakini oleh orang-orang dahulu atau
nenek moyang mereka, yang meyakini adanya pantangan-pantangan yang harus
ditaati untuk menghindari Bala atau
musibah. Di jaman yang sudah modern seperti ini, kepercayaan atau Mitos
biasanya masih melekat dan diyakini oleh orangtua atau sesepuh di pedesaan atau tempat yang masih kental dengan budayanya
terutama daerah Jawa.
Mitos
ini hingga memberikan inspirasi kepada suatu kelompok sosial, seperti Mitos
aksi yang dikembangkan oleh Georges
Sorel. Menurut Sorel, salah satu
cara yang paling efektif untuk mempengaruhi suatu komunitas ialah memberinya
gambaran-gambaran yang singkat dan tidak rumit tentang suatu masa depan yang
fiktif atau masa lalu yang bersifat perumpamaan belaka.
Mitos
sendiri merupakan keyakinan yang kurang jelas, kurang rasional, dan diolah
secara kurang teliti. Itulah sebabnya jika ditinjau kembali tentang kepercayaan
Pamali dan Mitos ini, terdapat pantangan-pantangan yang dapat diterima akal
sehat (rasional) namun terdapat pula
pantangan-pantangan yang tidak masuk akal (irasional).
Bahkan sebagian masyarakat mengklaim bahwa Pamali dan Mitos adalah takhayul. Namun itu semua kembali kepada
diri kita masing-masing untuk memilah mana yang baik untuk diikuti atau
sebaliknya.
PEMBAHASAN
I.
Kebudayaan keyakinan Pamali dan Mitos
Daerah
Jawa adalah daerah yang masih mempercayai adanya Pamali dan Mitos terutama di
daerah-daerah pedesaan, karena kebudayaannya yang masih kental sehingga Pamali
dan Mitos ini menjadi kepercayaan turun-menurun yang diwariskan oleh orangtua
atau masyarakat Jawa tempo dulu. Pamali sendiri secara hafiah memiliki kesamaan
arti dengan pantangan atau ketabuan, Pamali Jawa adalah pantangan dari
masyarakat Jawa yang harus dihindari oleh anggota masyarakatnya sendiri. Apabila
pantangan tersebut dilanggar, pelanggar akan mendapatkan risikonya.
Sementara
Mitos memiliki makna hafiah sebagai kepercayaan, keyakinan, mite atau dongeng. Dengan demikian Mitos
Jawa dapat dimaknai sebagai kepercayaan atau keyakinan masyarakat Jawa yang
sulit dibuktikan secara riil dan rasional. Pengertian lebih luas, Mitos Jawa
mengacu pada cerita tradisional Jawa.
Melalui
Pamali Jawa dapat kita ketahui bahwa masyarakat Jawa tidak suka menegur anak,
cucu, atau orang lain secara langsung atau dapat disimpulkan bahwa masyarakat
Jawa adalah masyarakat yang tidak suka berterus terang. Sehingga mereka
menggunakan kata sanepa (kiasan),
yang menunjukkan dan mengajarkan agar setiap orang yang mendapatkan teguran
berpikir secara kritis atas makna dibalik teguran itu.
Selain
itu menurut Sri Wintala Achmad, (2014) masyarakat Jawa lebih menyukai kisah
dongeng daripada kisah faktual, walaupun masyarakat Jawa meyakini bahwa kisah
dongeng sulit dibuktikan kebenarannya di alam riil namun bagi orang Jawa kisah
dongeng tetap mengandung hal atau ajaran yang positif. Ajaran positif dari
Mitos Jawa, yakni agar manusia mampu menggunakan ilmu titen, yakni ilmu yang bersumber dari pengamatan atas kejadian
yang berulang-ulang hingga dimitoskan. Sehingga dengan ilmu itu, orang jawa
menjadi berhati-hati dalam menjalani hidupnya.
Di
awal telah disinggung bahwa Pamali Jawa merupakan teguran orangtua Jawa kepada
anak, cucu, atau orang lain yang diungkapkan secara tidak langsung. Hampir
semua Pamali Jawa diawali dengan kata “aja” yang artinya “jangan”, hal tersebut
menandakan bahwa pantangan dari jawa tersebut memberikan peringatan agar jangan
dilanggar. Jika pantangan tersebut dilanggar, maka pelanggar akan mendapatkan
risikonya.
Berikut
adalah Pamali-pamali Jawa beserta kajiannya:
Ø Aja mangan
neng ngarep lawang (mligine bocah prawan), mundhak angel jodho.
[Jangan makan di depan pintu (khususnya anak
gadis), nanti susah mendapatkan jodoh].
Kajian:
Kita sadar betul bahwa makan di depan pintu adalah
tempat yang tidak tepat apalagi jika dilakukan oleh seorang gadis, selain
terlihat tidak sopan juga menghalangi orang untuk keluar masuk rumah melalui
pintu itu, serta dapat menyebabkan makanan yang sedang kita makan terkena debu.
Sehingga apabila seorang gadis melanggar pantangan tersebut, maka nantinya gadis
itu dinilai tidak memiliki kepribadian yang baik. Alhasil, menyebabkan gadis
tersebut akan sulit mendapatkan jodoh. Sekalipun mendapatkan jodoh, maka lelaki
tersebut memiliki kepribadian yang sejenis.
Ø Yen mangan
kudu dientekke, mundhak pitike mati.
[Kalau makan harus dihabiskan agar ayamnya
tidak mati].
Kajian:
Untuk mendapatkan sesuap nasi
tidaklah mudah, jika kebutuhan makan 3x sehari sudah dapat terpenuhi, hal
tersebut merupakan rezeki dari Tuhan yang patut disyukuri. Setiap orang
terutama orangtua bekerja keras untuk sekadar sesuap nasi bagi keluarganya,
maka dari itu orangtua selalu menyarankan kepada anak-anaknya untuk
menghabiskan makanannya. Membuang atau menyianyiakan makanan adalah perbuatan
manusia yang tidak bersyukur atas rezeki dari Tuhan, maka dari itu “ayamnya
akan mati bila makanan tidak dihabiskan” merupakan kiasan bahwa Tuhan akan
mengurangi rezeki karena tidak mensyukuri rahmat-NYA.
Ø Aja mangan
karo turu, mundhak sirahe dadi gedhe.
[jangan makan sambil tiduran, karena akan
membuat kepalanya membesar].
Kajian:
Menurut pakar kesehatan, bahwa
sesudah makan dilarang langsung tidur karena akan memperberat kerja lambung
sehingga menyebabkan lambung mudah terserang penyakit. Perihal jika makan
sambil tiduran dapat menyebabkan kepala menjadi besar hanyalah cara orangtua
menkut-nakuti anaknya agar tidak melanggar pamali tersebut.
Ø Aja asring
nyeblek bokonge bocak wedok, mundhak dheweke yen wis omah-omah bakal tansah
congkrah karo bojone.
[Jangan sering memukul pantat anak perempuan,
karena bila ia sudah berumah tangga akan selalu rebut dengan suaminya].
Kajian:
Masyarakat Jawa meyakini bahwa jika seorang
anak gadis di pukul pantatnya atau dipukuli secara kasar oleh orangtuanya (terutama
Ayah), maka kelak ketika sudah berumah tangga gadis itu akan sering bertengkar
dengan suaminya atau di perlakukan hal yang sama oleh suaminya seperti apa yang
telah dilakukan oleh orangtuanya.
Ø Aja kesuwen
neng kamar mandi, mundhak cepet tuwa.
[Jangan berlama-lama berada di kamar mandi,
dapat menyebabkan cepat tua].
Kajian:
Secara logis tentu tidak dapat diterima oleh akal,
bahwa berlama-lama di kamar mandi akan menjadi cepat tua. Sekalipun demikian,
jika diperhatikan pamali tersebut menunjukkan bahwa orang yang terlalu lama
berada di kamar mandi juga harus memperhatikan orang lain yang juga ingin
menggunakan kamar mandi tersebut. Dengan memakai kamar mandi tersebut dalam
waktu yang wajar, berarti orang tersebut selalu menempatkan kepentingan orang
lain setara dengan kepentingan pribadinya.
Ø Aja sinambi
micara rikala lagi mangan, mundhak disaru dening wong liya lan nekake kewan
galak.
[Jangan berbicara ketika sedang makan, karena
berakibat menjadi bahan gunjingan orang lain atau dapat mendatangkan binatang
buas].
Kajian:
Selain karena dianggap tidak sopan,
ketika makan sambil berbicara juga dapat membuat seseorang tersedak yang
berakibat fatal yakni kematian. Menurut pandangan Hiromi Shinya melalui bukunya The
Miracle of Enzyme, makan sambil berbicara yang artinya makan sambil membuka
mulut sangat tidak dianjurkan. Karena selain mengakibatkan kita dapat tersedak,
tapi juga makanan akan masuk ke saluran yang salah dan juga tertelannya udara
bersama makanan. Akibat dari tertelannya udara bersama makanan maka berakibat
pada pencernaan yang menjadi tidak baik. Berdasarkan uraian diatas maka Pamali
ini merupakan pantangan yang layak untuk diikuti, karena pantangan ini tersimpan hal yang
positif dan masuk akal. Perihal tentang “Binatang Buas”, ini hanyalah simbol
bahaya yang akan dihadapi jika melanggar pamali atau pantangan tersebut.
II.
Pamali Jawa: Menikah, Hamil, dan Melahirkan.
Menikah,
Hamil, dan Melahirkan merupakan bagian dari kehidupan seorang wanita. Didalam
masyarakat Jawa, mereka memiliki pantangan-pantangan yang harus dipatuhi
(terutama perempuan Jawa). Apabila pantangan ini tidak dipatuhi maka perempuan
Jawa tersebut akan mendapatkan risikonya ketika Menikah, Hamil, dan Melahirkan.
A.
Pantangan
dalam Menikah.
Prosesi pernikahan adat Jawa biasanya sangat sakral
dan memiliki petuah atau banyak hal
yang terkandung didalamnya. Salah satunya adalah pantangan-pantangan yang tidak
boleh dilanggar. Terdapat tiga
pantangan dalam pernikahan.
Yang pertama adalah pantangan jilu (siji
telu) yang artinya satu dan tiga. Pantangan jilu
memiliki makna bahwa baik calon perempuan maupun laki-laki tidak boleh lahir
pada urutan satu dan tiga dalam keluarganya. Apabila pantangan ini dilarang
maka calon mempelai akan mendapat kesialan hidup dan pernikahan yang akan
dijalaninya tidak akan langgeng.
Pantangan kedua adalah yang berkaitan dengan lokasi rumah. Tidak dianjurkan
melangsungkan acara pernikahan, bila calon mempelai perempuan memiliki rumah
(bertempat tinggal) disebelah barat dari calon mempelai pria. Jika pantangan
tersebut dilanggar maka diyakini keduanya akan mendapatkan kesusahan dalam
mendapatkan rezeki.
Pantangan ketiga adalah saat melamar dan memboyong wanita tidak boleh melewati Gunung
Pegat. Kata dari ‘Pegat’ sendiri memiliki arti ‘Putus’, mungkin dari arti kata
tersebut masyarakat Jawa menjadikan hal itu merupakan suatu pantangan. Dan jika
pantangan tersebut dilanggar, maka diyakini pernikahan kedua mempelai kelak
akan bercerai.
Selain terdapat Pamali
atau pantangan-pantangan yang harus ditaati, ternyata masyarakat Jawa-pun
meyakini adanya Mitos Pengantin Jawa, yakni:
·
Memindahkan cincin tunangan.
Masyarakat Jawa meyakini bahwa cincin pertunangan yang
diberikan oleh mempelai laki-laki kelak akan membawa keberuntungan jika
mempelai wanita tidak memindahkannya dari jari manis ke jari lainnya sebelum
hari H pernikahan. Jika pantangan ini dilanggar, maka kelak pernikahan atau
rumah tangga yang akan dibangun bersama calon suaminya akan mendapatkan
kesialan.
Namun jika ditilik dari pandangan agama, Jodoh tentu
sudahlah diatur dengan baik oleh Allah SWT, jika sepasang manusia telah
ditakdirkan untuk berjodoh maka hal-hal buruk atau hal yang menurut orang lain
akan berdampak buruk tidak akan menjadikan pasangan tersebut terpisah, justru
hal tersebut merupakan masalah yang harus dihadapi bersama untuk menjadikan
pribadi masing-masing menjadi lebih baik.
·
Datang awal di lokasi pernikahan.
Mitos ini masih dipercaya oleh sebagian masyarakat
jawa, bahwa jika mempelai laki-laki datang pertama kali di kantor KUA maka
pernikahan tersebut diyakini akan mendapatkan keberuntungan. Namun jika
sebaliknya keluarga mempelai perempuan yang lebih dulu sampai di kantor KUA,
maka pernikahan tersebut akan membawa kesialan.
·
Kado pernikahan.
Disetiap pernikahan, banyak tamu yang hadir dengan
membawa kado untuk diberikan kepada kedua mempelai sebagai doa dan ucapan
selamat. Menurut Mitos Jawa, hendaklah kado pertama yang dibuka adalah sesuatu
yang dipakai pertama kali ketika akan mulai menapaki kehidupan berkeluarga.
Bila hal tersebut dilakukan, maka diyakini keluarga baru tersebut akan
mendapatkan keberuntungan.
·
Menggunakan kerudung di hari pernikahan.
Menurut Mitos Jawa, kerudung ini akan menghindari dari
pengaruh roh jahat kepada mempelai perempuan. Roh jahat yang dimaksud adalah
suatu energi negatif yang dapat mengganggu berlangsungnya upacara pernikahan.
Dengan demikian jika mempelai wanita memakai kerudung diyakini dapat
terlindungi selama proses pernikahan.
Namun menurut pandangan agama Islam, memakai kerudung
adalah salah satu bentuk kewajiban seorang wanita muslim untuk menutup auratnya
dari orang-orang yang bukan muhrimnya, serta melindungi seorang wanita bukan hanya
dari roh jahat yang akan menjerumuskannya kedalam perbuatan zina tapi juga melindungi dari
hal-hal buruk lainnya.
·
Menikah di tanggal lahir
Menentukan tanggal pernikahan bagi orang Jawa
sangatlah penting. Karena jika salah dalam memilih tanggal pernikahan, diyakini
akan mendapatkan kesialan. namun sebaliknya, jika tepat dalam memilih tanggal
pernikahan maka pernikahan tersebut diyakini akan berjalan dengan lancar dan
mendapatkan keberuntungan. Selain tanggal dan bulan-bulan tertentu, orang Jawa
juga meyakini bahwa jika acara
pernikahan dilaksankan pada tanggal kelahiran mempelai pria, maka pernikahan
tersebut akan membawa keberuntungan bagi kedua mempelai dan juga terhindar dari
malapetaka.
B.
Pantangan
dalam Kehamilan
Seperti yang kita tahu, bahwa kehamilan merupakan
peristiwa penting bagi seorang wanita. Terlebih jika kehamilan tersebut
merupakan kehamilan yang pertama, tentu akan sangat berhati-hati dalam masa
kehamilannya. Begitupun yang dialami oleh wanita Jawa, mereka memiliki
pantangan-pantangan yang harus ditaati untuk terhindar dari hal-hal buruk yang
akan terjadi pada kehamilannya dan juga bayi yang ada dalam kandungannya.
Berbagai
Pantangan
Menurut data yang telah dikumpulkan dari beberapa
sumber, bahwa pantangan-pantangan bagi seorang wanita hamil adalah sebagai
berikut:
a.
Aja nggeguyu (ngenyek) wong cacat, amarga cacate wong
kuwi bisa numusi neng anake.
[Jangan
mentertawakan (melecehkan) orang cacat, karena cacatnya orang itu bisa menurun
pada anaknya].
Pantangan ini merupakan pantangan yang masuk akal
(rasional), didalam agamapun kita dianjurkan untuk memuliakan atau membantu
orang yang memiliki keterbatasan. Kepribadian anak biasanya adalah bawaan dari
orangtuanya (terutama Ibu) semenjak masih dalam kandungan, jika orangtua
memiliki kepribadian yang baik, dan suka menolong orang yang kurang beruntung
maka kelak bayi yang masih dalam kandungan dapat memiliki naluri kepribadian
yang baik juga seperti kedua orangtuanya.
b.
Aja ngunek-uneke wong.
[Jangan memaki orang].
Sama seperti pantangan sebelumnya, jika wanita hamil
tidak dapat menjaga sikapnya dalam bertindak maupun berbicara maka kelak
kebiasaan tersebut akan menurun pada anaknya.
c.
Aja mangan utawa adus ing wayah wengi,mundhak anake
gampang kena sawan.
[Jangan
makan atau mandi di waktu malam, karena dapat menyebabkan si anak kelak bakal
mudah terkena sawan].
Tidak boleh makan di waktu malam, karena wanita
tersebut akan rentan dengan penyakit pencernaan. Sedangkan jika tidak boleh
mandi malam, karena wanita tersebut akan mudah terkena penyakit rematik.
Perihal ‘anaknya akan mudah terkena sawan’ hanyalah
cara agar pantangan tersebut tidak dilanggar.
d.
Aja asring susah lan nangis, mundhak anake dadi
gembeng.
[Jangan
sering bersedih dan menangis, karena akan menyebabkan anaknya jadi cengeng].
e.
Aja mangan iwak lele, mundhak anake gedhe lan angel
laire.
[Jangan
makan ikan lele, karena menyebabkan si anak yang berukuran besar akan susah
lahirnya].
f.
Aja mangan urang utawa yuyu.
[Jangan makan udang dan kepiting].
Ada benar dan ada salahnya perihal wanita hamil
dilarang mengkonsumsi ikan lele, udang, dan kepiting. Selama mengkonsumsi
makanan seafood tersebut masih dalam
batas yang wajar, tidak akan jadi masalah.
Namun jika terlalu banyak mengkonsumsi ikan lele, udang,
dan kepiting yang merupakan ikan-ikan berkolesterol tinggi, tentu akan menjadi
masalah untuk kehamilan.
g.
Aja mangan kweni lan duren, amarga bisa keguguran.
[Jangan makan buah kweni dan durian, karena bisa
keguguran].
Tidak
boleh makan buah kweni dan durian, karena kedua buah tersebut bisa menyebabkan
bayi mengalami keguguran.
h.
Aja mateni kewan.
[Jangan membunuh hewan (bintang)].
Tidak semua hewan boleh dibunuh. Selama hewan tersebut
tidak mengganggu kita tidak berhak membunuhnya, karena hewanpun merupakan
makhluk hidup yang diciptakan oleh Allah SWT.
i.
Aja nutupi bolongan atawa leng.
[Jangan menyumbat lubang atau liang].
Salah satunya adalah menyumbat atau menutup
lubang tempat hidup binatang dalam
tanah. Karena lubang tersebut merupakan pintu keluar masuk yang apabila
disumbat oleh seorang wanita hamil, diyakini kelak ketika wanita tersebut
melahirkan akan mengalami kesulitan mengeluarkan bayinya.
Namun apabila wanita hamil tersebut tidak menyumbat
atau menutup lubang tempat tinggal atau mengganggu kehidupan hewan, maka kelak
akan dimudahkan dalam proses melahirkan.
j.
Aja midak telek.
[Jangan menginjak kotoran binatang].
Artinya, wanita hamil harus selalu menjaga kebersihan
lingkungannya. Karena dengan begitu, akan terhindar dari penyakit-penyakit
jahat. Sehingga wanita hamil tersebut tetap sehat begitupun bayi yang ada
didalam kandungannya.
C.
Pantangan
Melahirkan
Ketika masih dalam proses kehamilan, wanita hamil
sebaiknya memanfaatkan moment-moment tersebut untuk merasakan perkembangan bayi
dalam kandungannya. Karena tidak semua wanita dapat merasakan kehamilan dan
melahirkan seorang anak di dunia.
Setelah melahirkan, wanita akan memasuki masa nifas
yang berlangsung selama 40 hari. Sehingga wanita Jawa memiliki
pantangan-pantangan yang harus ditaati.
Berikut
pantangan-pantangan setelah melahirkan:
ü Aja saresmi
salawase patang puluh dina.
[Jangan
berhubungan badan dengan suami selama empatpuluh hari].
Artinya, seorang wanita dianjurkan agar tidak
melakukan hubungan seks selama 40 hari setelah melahirkan. Karena hal itu akan
mengganggu kesehatannya. Organ vital yang belum sepenuhnya sembuh akan menjadi
lebuh parah lukanya akibat hubungan seks tersebut. Karenanya, suami hendaklah
tidak memaksakan istrinya untuk berhubungan seks. Apabila pantangan itu
dilanggar, maka sang ibu akan berpeluang besar untuk hamil.
ü Aja turu
rikala wayah surub, mundhak bayine lara.
[Jangan
tidur pada waktu senja (maghrib), karena bayinya bisa sakit].
Tidur diwaktu senja memang tidak baik bagi kesehatan
bayi dan ibu itu sendiri. Dari sinilah, maka seorang ibu jangan membawa bayinya
di ranjang untuk tidur di saat senja hari. Ajaklah si kecil tidur jauh sesudah
lewat waktu senja.
Menurut Islam, ketika terbenamnya matahari adalah
waktu dimana setan-setan mulai bertebaran. Maka dari itu Islam mengajarkan
kepada umatnya jika tiba waktu senja segeralah tutup pintu dan jendela, dan
jangan biarkan anak atau hewan ternak kita yang masih berada diluar rumah atau
pekarangan. Segera laksanakan shalat magrib kemudian berdzikir kepada Allah SWT
agar selalu diberikan perlindungan.
ü Aja mangan
iwak loh utawa laut, sartane daging pitik.
[Jangan
makan ikan air tawar atau laut, dan daging ayam].
Sewaktu luka-luka bekas melahirkan belum sembuh di
masa nifas, seorang wanita dilarang menyantap ikan air tawar dan laut, serta
daging ayam. Karena makanan tersebut justru akan memperparah luka.
KESIMPULAN
Kebudayaan merupakan ciri
khas yang harus dijaga dan dilestarikan. Banyak pelajaran yang dapat diambil
dari bermacam-macam kebudayaan, seperti kebudayaan tentang keyakinan Pamali dan
Mitos. Walaupun telah dijelaskan bahwa Pamali dan Mitos adalah suatu keyakinan
yang sulit diterima oleh akal (irasional), tetapi dalam kenyataannya dibalik
pantangan Pamali dan Mitos masih ada sisi positif yang masuk akal yang dapat
kita ambil. Perihal pantangan-pantangan yang tidak rasional seperti yang telah
dibahas sebelumnya, kita masih dapat berpegang pada apa yang telah diajarkan
oleh agama. Sebagai manusia yang beragama tentu kita tidak akan mudah percaya
dengan hal-hal yang tidak masuk diakal (irasional), karena agama telah
memberikan pedoman kepada kita, yang dimana pedoman tersebut telah menjelaskan
dengan sempurna hal-hal yang terjadi saat ini maupun masa yang akan datang. Namun
bukan berarti kita menjudge bahwa
kebudayaan tentang keyakinan Pamali dan Mitos ini adalah suatu keyakinan yang
sesat yang harus dimusnahkan, tetapi biarkan kebudayaan ini tetap menjadi ciri
khas bangsa Indonesia terutama ciri khas masyarakat Jawa.
DAFTAR PUSTAKA
Soekmono, R. 2003. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2. Yogyakarta:
Penerbit Kanisius, 1973.
Edi Sedyawati, Prof, Dr., 2012. Warisan Budaya Tak Benda masalahnya kini di
Indonesia (disunting). Jakarta: Lembaga Penelitian UI.
Pakubuwana, V. 1988-1991. Serat
Centhini Latin. jilid 1-12. Yogyakarta: Yayasan Centhini.
Maran, Rafael Raga. 2001. Pengantar Sosiologi Politik. Jakarta:
Rineka Cipta.
Achmad,Sri Wintala. 2014. Pamali&Mitos Jawa Ilmu Kuno antara Bejo
dan Kesialan. Yogyakarta: Araska.
Toto Suryana, Drs,
M.Pd,dkk., 1997. Pendidikan Agama Islam untuk
Perguruan Tinggi. Bandung, Tiga Mutiara
Edi Sedyawati, Prof, Dr., 2006. Kajian Arkeologi, Seni, dan Sejarah.
Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
kearifan budaya yang patut dipertahankan, salut dech!
BalasHapusMenarik. Sebenarnya sebagian pamali terkait perilaku suami adalah wujud kepeduliannya terhadap kesehatan istri, mencerimkan harapannya bahwa persalinan akan berlangsung tanpa kendala dan anaknya yang lahir akan normal, sehat dan walafiat.
BalasHapusMau tanya mitos tentang serumah 3 pasang keluarga... trimakasih
BalasHapusBullshit semuanya
BalasHapus