Dia. Namanya yang akhir-akhir ini selalu ku sebut dalam do’a,
memang belum tentu akan menjadi jodohku kelak. aku-pun baru mengenalnya
beberapa bulan terakhir, disaat seperti ini-pun aku baru saja sembuh dari sakit
hatiku yang lalu. Entah darimana asalnya aku berani jatuh hati kembali,
sedangkan aku sadar betul sulitnya bangkit dari yang namanya patah hati. tapi
apa salahnya aku berharap kembali, ketika harapanku saat ini dalam batas kewajaran.
Ketika kini aku berharap bukan kepada dia yang kusebut namanya dalam do’a, tapi
pada Dia yang menciptakannya. Bukankah ketika kita meminta sesuatu harus
mendapatkan izin yang memilikinya terlebih dahulu?
Memang tak mudah tetap Istiqomah dengan pilihan. Tapi ketika
keyakinan itu datang, semua takkan terasa sia-sia. Sebanyak apapun
kekurangannya, jika kita sudah yakin dengan pilihan itu maka kekurangan
bukanlah alasan untuk pergi begitu mudah. Kebanyakan orang bilang “cinta itu
buta. Ketika kamu sedang jatuh cinta, seburuk apapun yang sedang ia perbuat tak
ada jeleknya dimatamu” atau yang lebih familiar adalah “jatuh cinta itu bagai tai
kucing yang terasa seperti coklat”. Bukan,
In shaa Allah aku bukan seperti itu. Apa alasannya?
Alasannya adalah karena aku memiliki keyakinan bahwa dia yang
menjadi pilihanku saat ini sebetulnya adalah pribadi yang baik, walaupun saat
ini sikap, sifat, kelakuan dan agamanya 'mungkin' masih kurang. Tapi bukan berati
aku lebih baik pula darinya, aku-pun sama masih jauh dari kata “Lebih Baik”. terkadang aku masih melakukan banyak kesalahan/keburukan/kekhilaf-an, dan kini aku
sedang dalam proses memperbaikinya. Nah, begitupun dia. Aku yakin, walaupun dia
yang menjadi pilihanku saat ini masih memiliki perilaku dan agamanya yang mungkin
masih kurang, tapi dia pasti akan berproses menjadi pribadi yang lebih baik
lagi. In shaa Allah.
Keyakinan itulah yang menjadi salah satu alasan untuk aku
tetap bertahan. Karena manusia butuh proses, dan aku yakin dia memiliki tekad
untuk menjadi sosok pribadi yang lebih baik lagi. Dengan begitu, aku-pun
berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik pula, agar setidaknya (jika
memang berjodoh) kami bisa menjadi pantas untuk bersanding. In shaa Allah. Bukankah,
orang baik akan disandingkan dengan yang baik pula?