Senin, 04 Desember 2017

Komunikasi Dalam Tulisan

SOFTSKILL KOMUNIKASI BISNIS






Nama           : Setiana Putri Wulandari
NPM            : 1C214761
Kelas            : 4EA08
Mata Kuliah : Komunikasi Bisnis


BAB I
PENDAHULUAN
1.1     Latar Belakang
Manusia adalah makhluk sosial dan memerlukan interaksi dengan orang lain. Tanpa disadari setiap hari setiap manusia banyak melakukan interaksi dalam bentuk komunikasi dengan sejumlah orang dan dalam berbagai cara. Bertutur sapa, bertelepon, berwawancara, berdiskusi dan surat menyurat. Itu semua termasuk ke dalam aktivitas yang tidak terlepas dari kehidupan sehari – hari.
Komunikasi secara umum merupakan suatu proses penyampaian – penerimaan pesan antar dua orang atau lebih. Pesan yang disampaikan dapat berupa komunikasi lisan, komunukasi tulisan, komunikasi verbal, komunikasi non verbal. Komunikasi tulisan suatu proses penyampaian pesan komunikasi dengan menggunakan kata-kata dalam bentuk tulisan yang memilki makna tertentu. Jadi dapat dikatakan bahwa komunikasi tulisan adalah kegiatan komunikasi yang menggunakan sarana tulisan yang dapat menggambarkan atau mewakili komunikasi lisan termasuk kedalamnya adalah menulis dan membaca.
1.2     Rumusan Masalah
          Berdasarkan latar belakang diatas maka didapatkan beberapa rumusan masalah antara lain:
            1)   Bagaimana penulisan kabar atau berita?
            2)   Bagaimana penulisan pesan-pesan persuasive?
            3)   Apa yang dimaksud kospondensi (surat menyurat)?
1.3     Tujuan
          Paper ini bertujuan untuk:
            1)   Memberikan penjelasan mengenai penulisan kabar atau berita.
2)   Memberikan penjelasan mengenai penulisan pesan-pesan persuasive.
3)   Memberikan penjelasan mengenai korespondensi (surat menyurat).

BAB II
PEMBAHASAN
2.1     Penulisan Kabar atau Berita
A.      Nilai Berita (News Values)
Sumber berita adalah peristiwa atau kejadian. Namun, tidak semua peristiwa layak jadi berita atau diberitakan di media.
Wartawan memiliki parameter untuk memilih peristiwa mana yang layak diberitakan, yakni nilai berita (news values).
Dalam literatur jurnalistik kita menemukan nilai berita sebagai berikut:
1)   Magnitude. Pengaruh peristiwa bagi publik.
2)   Significance. Penting tidaknya bagi publik.
3)   Actuality. Hangat, akan, sedang, atau baru terjadi.
4)   Proximity. Kedekatan secara geografis dan psikologis dengan pembaca.
5)   Prominence. Popularitas, keterkemukaan, atau ketokohan orang yang terlibat dalam peristiwa.
6)   Human Interest. Menyentuh perasaan kemanusiaan khalayak.
7)   Unique. Keanehan, ketidaklaziman.
8)   Conflict. Bentrokan, perang, gelut, dll.
B.       Unsur Berita
Peristiwa yang bernilai berita kemudian disusun dalam sebuah laporan (naskah berita) dengan memasukkan unsur 5W+1H
·  WHO. Siapa yang terlibat; pelaku, korban, saksi, dll.
·  WHAT. Apa yang terjadi, jenis peristiwa/acara.
·  WHEN. Kapan – Waktu peristiwa berlangsung.
·  WHERE. Tempat – di mana peristiwa terjadi.
·  WHY. Kenapa terjadi – penyeba, tujuan, latar belakang, motif.
·  HOW. Bagaimana kejadiannya – detail peristiwa, kronologis, suasana.
C.       Jenis-Jenis Berita
Jenis-jenis berita cukup banyak. Terpopuler atau paling banyak digunakan wartawan dan ditemui di media:
·       Straight News –berita langsung, apa adanya, singkat dan lugas.
·       Depth News –berita mendalam, lebih lengkap dari berita straight news, dengan penambahan latar belakang, pendapat, data pendukung.
·       Oinion News. Berita Opini, yaitu berita yang berisi pendapat, komentar, penilaian, atau pidato pejabat, tokoh, ahli, mengenai sesuatu masalah atau peristiwa.
D.      Bahasa Berita: Bahasa Jurnalistik
Peristiwa yang bernilai berita disusun dalam naskah berita dengan menggunakan gaya bahasa jurnalistik, bahasa media, atau bahasa pers.
Bahasa jurnalistik memiliki karakteristik ringkas dan lugas (to the point), tidak berbunga-bunga atau bertele-tele.
E.       Struktur Naskah Berita
Naskah berita terdiri dari:
1.    Judul (Head/Headline)
2.    Baris Tanggal (Dateline)
3.    Teras (Lead)
4.    Isi (Body)
2.2     Penulisan Pesan-pesan Persuasive
Persuasi merupakan suatu usaha mengubah sikap, kepercayaan atau tindakan audiens untuk mencapai suatu tujuan. Secara sederhana, persuasi yang efektif adalah kemampuan untuk menyampaiakan suatu pesan di dalam suatu cara yang membuat audiens (pembaca atau pendengar) merasa mempunyai pilihan dan membuat mereka setuju. 
Meskipun kebanyakan pesan-pesan bisnis adalah rutin, namun dalam beberapa situasi tertentu diperlukan pesan yang didesain untuk memotivasi atau memberi persuasi kepada orang lain. Penyampaian pesan ini tidak hanya digunakan untuk kepentingan internal organisasi namun dapat pula digunakan untuk kepentingan eksternal organisasi seperti permintaan atau informasi yang bersifat menyenangkan, atau kegiatan untuk mendapatkan dana dan kerjasama.
Pesan-pesan persuasif bertujuan untuk mempengaruhi audiens yang cenderung mempertahankan ide atau gagasannya. Pesan-pesan persuasif umumnya lebih lama, lebih rinci, dan tergantung pada perencanaan strategis yang cukup ketat. 
Adapun langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam menuliskan pesan-pesan persuasif antara lain:
            a.    Analisis Audiens 
Penyampaian pesan-pesan persuasif yang terbaik adalah dengan cara menhubungkan suatu pesan dengan minat dan hasrat audiens. Untuk mengakomodasi perbedaan individual, maka perlu menganalisis audiens dan kemudian menyusun suatu pesan yang dapat menjadi daya tarik bagi kebutuhan mereka. Cara yang paling mudah dalam menilai kebutuhan audiens adalah dengan berpedoman pada teori kebutuhan dari Maslow yang menyatakan bahwasanya manusia memiliki lima kebutuhan yang sifatnya berjenjang. Dimana tiap-tiap kebutuhan memiliki kualitas atau tingkat kepentingan yang berbeda-beda, mulai dari kebutuhan yang paling dasar hingga kebutuhan yang paling tinggi tingkatannya. 
           b.    Mempertimbangkan Perbedaan Budaya 
Pemahaman terhadap perbedaan budaya yang ada bukan saja akan membantu dalam memuaskan kebutuhan audiens, tetapi juga akan membantu bagaimana mereka akan memberikan penghormatan. Memberikan persuasi untuk budaya yang berbeda akan berbeda cara memberikan persuasinya. 
            c.    Memilih Pendekatan Organisasional 
Agar penyampaian pesan persuasif dapat tempat sasaran dan sesuai dengan apa yang dikehendaki maka perlu diperhatikan cara penyampaiannya kepada audiens, apakah menggunakan pendekatan langsung atau tidak langsung. 
Penggunaan pendekatan organisasional baik langsung maupun tidak langsung dalam penyampaian pesan persuasif harus mampu meyakinkan audiens bahwasannya pesan tersebut dapat dipertanggungjawabkan dan memiliki alasan. 
Persuasi yang efektif mencakup empat komponen penting, yaitu : 
            1)   Menetapkan kredibilitas 
Bagi seorang komunikator tingkat kredibilitas ditentukan oleh sejaumana tingkat kepercayaan dan reabilitas dirinya.  
           2)   Membuat kerangka argumentasi audiens 
Kerangka argumentasi dapat dibuat berdasarkan rencana organisasional AIDA (Attention, Interest, Desire dan Action). 
a.    Attention (Perhatian), meyakinkan audiens dibagian permulaan bahwa ada sesuatu yang akan disampaikan. Memperkenalkan suatu masalah atau ide yang membuat audiens mau mendengar pesan-pesan yang akan disampaikan. 
b.    Interest (Minat), menjelaskan relavansi pesan-pesan yang disampaikan dengan audiens. Mengembangkan pernyataan yang telah disampaikan pada fase pertama secara rinci. Menghubungkan pesan-pesan yang akan disampaikan dengan manfaat secara spesifik yang dapat dinikmati oleh audiens. 
c.     Desire (Hasrat), mengubah keinginan audiens dengan menjelaskan bagaimana perubahan yang dilakukan dapat memberikan manfaat yang lebih baik bagi audiens, dan berusaha untuk mengimplementasikan ide atau gagasan. 
d.    Action (Tindakan), menyarankan tindakan spesifik yang diinginkan terhadap audiens. Perlu juga dipikirkan bagaimana audiens akan memperoleh manfaat dari tindakan yang dilakukan, serta menemukan cara agar tindakan tersebut mudah untuk dilakukan. 
            3)   Memilih Daya Pemikat 
Umumnya pesanpesan persuasif menggunakan daya pemikat dengan logika (logical appeals) dan daya pemikat emosional (emotional appeals) untuk melakukan persuasi audiens. 
Kedua pendekatan ini akan memiliki keseimbangan apabila tergantung pada tindkan yang diharapkan, harapan para audiens, tingkat resistensi yang diatasi, kemampuan menjual ide atau gagasan tersebut. 
a.    Pemikat Emosional 
Dalam melakukan persuasi audiens, dapat memanfaatan emosi yang dilandasi dengan suatu argumentasi atau dalam bentuk simpati kepada audiens sepanjang pemikat emosional bersifat kuat. Dapat menggunakan kata-kata yang sangat berpengaruh pada emosi seseorang seperti kebebasan, keberhasilan, nilai, penghargaan, kenyamanan, dan keamanan. 
b.    Pemikat Logika 
Dalam berbagai hal, penggunaan pendekatan ini dapat dilakukan seperti membuat aduan (claim) dan memberikan dukungan atas aduan tersebut dengan memberikan alasan dan bukti-bukti yang ada. Adapun penggunaan pendekatan ini didasari atas berbagai alasan diantaranya : 
·      Analogi, adalah menggunakan suatu alasan dari bukti-bukti spesifik menuju bukti-bukti fisik pula. 
·      Induksi, adalah memberikan berbagai alasan dari bukti-bukti spesifik menuju kesimpulan umum. 
·      Deduksi, Pemberian alasan dari yang bersifat umum untuk kesimpulan yang khusus. 
c.    Pertimbangan Etika 
Persuasif dapat digunakan untuk mempengaruhi audiens dengan memberikan informasi dan menambah pemahaman mereka dalam berbagai hal. Hal yang paling penting dalam pendekatan ini adalah menunjukkan perhatian yang jujur kepada audiens dengan memenuhi kebutuhan mereka. 
2.2     Korespondensi (surat menyurat)
Korepondensi atau kegiatan surat-menyurat menjadi bagian dari kehidupan organisasi bisnis sehari-hari. Korespondensi dalam bisnis memiliki peranan sebagai berikut:
1)   Menciptakan surat yang baik, jelas dan tepat. Dalam kehidupan sehari-hari, kesalahan dalam penulisan surat masih banyak terjadi. Misalnya, susunan kalimat tidak lengkap, berbelit-belit, tanda baca tidak benar, tata bahasa tidak teratur dan salah mengadopsi bentuk dan model surat. Kesalahan tersebut disebabkan, yaitu:
a.    Tidak ada pengarahan dan pengendalian mengenai cara menulis surat yang baik, baik di lingkungan keluarga maupun organisasi.
b.    Masyarakat sendiri terlalu mudah memaafkan kesalahan dalam penulisan surat. Surat yang semraut bisa menimbulkan kesalahpahaman atau kekacauan yang justru akan menghalangi arus informasi. Kegiatan korespodensi secara tidak langsung merupakan proses pembelajaran dalam menciptakan surat yang baik, jelas dan tepat.
2)   Menciptakan kerja sama yang baik. Perusahaan tidak dapat mencapai tujuan tanpa bekerja sama dengan pihak lain. Agar bisa bekerja sama dengan baik, perusahaan perlu menjaga komunikasi dengan baik. Pihak lain akan mendukung terciptanya kerjasama yang baik.
3)   Menyebarkan kegiatan. Tidak semua orang dalam perusahaan secara otomatis mengetahui kegiatan yang terjadi di dalam perusahaan atau kegiatan yang terjadi antara perusahaan dengan pihak luar. Korespondensi memegang peranan penting dalam menyebarkan kegiatan perusahaan, baik kepada pihak internal maupun eksternal perusahaan.

BAB III
KESIMPULAN
Dalam penulisan kabar atau berita terdapat Nilai Berita (News Values), unsure berita, jenis-jenis berita, bahas aberita, dan struktur naskah berita. Dalam wawancara ada pihak yang lebih mencondong memberikan pertanyaan. Ilmu korespondensi memiliki peran vital dalam kelancaran suatu bisnis. Dengan ilmu korespondensi yang memadai akan menjamin proses surat-menyurat secara lancar sehingga perkembangan bisnis dapat melaju cepat dan siap meraup profit secara maksimal. Dalam menjalankan kegiatan sehari-hari sebuah perusahaan tidak akan terlepas dari kegiatan surat menyurat. Bahkan boleh dikatakan bahwa kegiatan surat menyurat ini adalah merupakan urat nadi dari suatu perusahaan. Dari arus keluar masuk surat ini kita bisa mengukur frekuensi dan intensitas komunikasi yang berlangsung di suatu perusahaan.

DAFTAR PUSTAKA
https://nindisabrina.wordpress.com/2014/11/11/makalah-komunikasi-tulisan/
http://tujuan1.blogspot.co.id/2013/11/penulisan-pesan-pesan-persuasif.html
http://rahmadsalehangkat12.blogspot.co.id/2014/11/korespondensi-bisnis.html
 

Komunikasi Lisan Dan Negosiasi

SOFTSKILL KOMUNIKASI BISNIS






Nama           : Setiana Putri Wulandari
NPM            : 1C214761
Kelas            : 4EA08
Mata Kuliah : Komunikasi Bisnis


BAB I
PENDAHULUAN
1.1     Latar Belakang
Istilah komunikasi berasal dari bahasa inggris yaitu communication, sedangkan dari bahasa latin adalah comunicatus yang mempunyai arti berbagai atau menjadi milik bersama. Komunikasi diartikan sebagai proses sharing diantara pihak-pihak yang melakukan aktifitas komunikasi tersebut.
Ilmu  komunikasi  adalah  ilmu  pengethuan  sosial  yang  bersifat  multidisipliner, olehnya  itu  tidak  bias menghindari  perspektif  dari  beberapa  ahli  yang  tertarik  pada kajian  tentang  komunikasi,  sehingga  pengertian dan definisi komunikasi menjadi semakain banyak dan beragam, tetapi pada dasarnya semua itu bersi fat saling melengkapi dan menyempurnakan.
Komunikasi  secara  umum  adalah  suatu  proses  pembentukan,  penyampaian, penerimaan, pengelolaan pesan  yang terjadi dalam diri seseorang dan  atau diantara dua atau lebih  dengan tujuan  tertentu. Artinya bahwa komunikasi tersebut adalah suatu proses mengenai pembentukan, penyampaian, penerimaan, dan pengolahan  pesan.  Setiap  pelaku komunikasi  dengan  demikian  akan  melakukan  empat  tindakan  yaitu: membentuk, menyampaikan,  menerima  dan  mengolah  pesan.  Ke-empat  tindakan  tersebut  lazimnya terjadi secara  berurutan.  Membentuk  pesan  artinya  menciptakan  sesuatu  idea  atau gagasan.  Ini  terjadi  dalam  benak kepala  seseorang  melalui  proses  kerja  system syaraf. Pesan  yang  telah  terbentuk  ini  kemudian  disampaikan kepada orang lain baik secara langsung ataupun tidak langsung. Bentuk dan  mengirim pesan, seseorang akan menerima pesan yang disampaikan oleh orang lain.  Pesan yang diterimanya ini kemudian akan diolah melalui sistem syaraf dan diinterpretasikan. Setelah diinterpretasikan, pesan tersebut dapat menimbulkan tanggapan atau reaksi  dari  orang  tersebut.  Apabila  ini  terjadi, maka si orang  tersebut  kembali  akan  membentuk  dan menyampaikan pesan baru.
Pesan  adalah produk  utama  komunikasi.  Pesan  berupa  lambang-lambang  yang menjalankan  ide/gagasan,  sikap,  perasaan, praktik atau tindakan. Bisa berbentuk kata-kata tertulis, lisan, gambar-gambar, angka-angka, benda, gerak-gerik atau  tingkah  laku dan  berbagai  bentuk  tanda-tanda  lainnya.
Negosiasi merupakan proses untuk mencapai kesepakatan yang  menyangkut kepentingan timbal balik dari pihak-pihak dengan sikap, sudut pandang, dan kepentingan-kepentingan yang ber-beda satu sama lain. Negosiasi, baik yang dilakukan oleh seorang pribadi dengan pribadi lainnya, maupun negosiasi antara kelompok dengan kelompok (atau antar pemerintah), senantiasa melibatkan pihak-pihak yang memiliki latar belakang berbeda dalam hal wawasan, cara berpikir, corak perasaan, sikap dan pola perilaku, serta kepentingan dan nilai-nilai yang dianut. Pada hakikatnya negosiasi perlu dilihat dari konteks antar budaya dari pihak yang mela-kuka negosiasi, dalam artian perlu komunikasi lisan, kesedian untuk memahami latar belakng, pola pemikiran, dan karakteristik masing-masing, serta kemudian berusaha untuk saling menyesuaikan diri.
1.2     Rumusan Masalah
          Berdasarkan latar belakang diatas maka didapatkan beberapa rumusan masalah antara lain:
1)   Bagaimana komunikasi lisan dalam rapat?
2)   Bagaimana komunikasi lisan dalam wawancara?
3)   Bagaimana komunikasi dalam bernegosiasi?
1.3     Tujuan
          Paper ini bertujuan untuk:
1)   Memberikan penjelasan mengenai komunikasi lisan dalam rapat.
2)   Memberikan penjelasan mengenai komunikasi dalam wawancara.
3)   Memberikan penjelasan mengenai komunikasi dalam bernegosiasi.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1     Komunikasi Lisan Dalam Rapat
Di dalam suatu pertemuan dan dalam suatu rapat setiap anggota atau peserta harus menyadari posisinya dalam forum tersebut. Tiap peserta hendaknya:
·      Mampu berperan sebagai penyelaras yang sangat bijaksana dan adil namun tidak kehilangan pendirian.
·      Mampu menjadi komunikator yang berpartisipasi aktif namun tidak memonopoli pembicaraan.
·      Mampu berkomunikasi secara terbuka, jujur dan bertanggung jawab.
·      Mampu menjadi komunikan yang sangat responsive namun tidak emosional.
·      Mampu mengontrol diri, dan menghindarkan terjadinya debat serta tidak berbicara bertele-tele.
2.2     Komunikasi Lisan Dalam Wawancara
Misalkan dalam suatu wawancara, kita melakukan komunikasi dengan seorang yang diwawancara. Dalam wawancara tersebut, ada pihak yang lebih mencondong memberikan pertanyaan. Wawancara biasanya dilakukan untuk mengumpulkan data yang ingin kita dapat. Ada juga etika dalam berwawancara, diantaranya adalah memperkenalkan diri terlebih dahulu. Kemudian kita sampaikan maksud dari wawancara yang kita lakukan. Kita juga harus respect kepada orang yang kita tanya sehingga ia merasa nyaman. Berikut ini ialah hal yang perlu diperhatikan ketika melakukan wawancara:
1.        Gunakan volume suara yang baik dan terdengar (berbicara tidak terlalu keras).
2.        Hindari bahasa menggurui responden.
3.        Hindari sikap rakus.
4.        Fokus pada lawan bicara.
5.        Fokus pada pembicaraan.
6.        Tidak boleh memotong pembicaraan.
7.        Lakukan verifikasi jika ada kekurangan.
8.        Hindari kata-kata kasar (kotor).
9.        Bersikap ramah.
10.    Jangan menyakiti hati responden.
11.    Hidari tatapan yang menyelidik/melotot/clingak-clinguk.
12.    Ucapkan terima kasih.
2.3     Komunikasi Lisan Dalam Bernegosiasi
Sebagaimana kita cukup sering mendengar negosiasi diartikan sebagai proses yang melibatkan upaya seseorang untuk merubah atau tidak merubah sikap dan perilaku orang lain. Sedangkan pengertian yang lebih terinci menunjukkan bahwa negosiasi merupakan proses untuk mencapai kesepakatan yang menyangkut kepentingan timabal balik dari pihak-pihak dengan sikap, sudut pandang, dan kepentingan-kepentingan yang berbeda satu sama lain. Negosiasi, baik yang dilakukan oleh seorang pribadi dengan pribadi lainnya, maupun negosiasi antara kelompok dengan kelompok (atau antar pemerintah), senantiasa melibatkan pihak-pihak yang memiliki latar belakang berbeda dalam hal wawasan, cara berpikir, corak perasaan, sikap dan pola perilaku, serta kepentingan dan nilai-nilai yang dianut. Pada hakikatnya negosiasi perlu dilihat dari konteks antar budaya dari pihak yang mela-kukan negosiasi, dalam artian perlu komunikasi lisan, kesedian untuk memahami latar belakng, pola pemi-kiran, dan karakteristik masing-masing, serta kemudian berusaha untuk saling menyesuaikan diri.
Agar dalam berkomunikasi lebih efektif dan mengena sasaran dalam negosiasi bisnis harus dilaksanakan dengan melalui beberapa tahap yakni:
1.    Fact-finding, mengumpulkan fakta-fakta atau data yang berhubungan dengan kegiatan bisnis lawan sebelum melakukan negosiasi.
2.    Planning/rencana, sebelum bernegosiasi/berbicara susunlah dalam garis besar pesan yang hendak disampaikan. Berdasarkan kerangka topik yang hendak dibicarakan rincilah hasil yang diharapkan akan teraih.
3.    Penyampaian, lakukan negosiasi/sampaikan pesan dalam bahasa lawan/si penerima. Usahakan gunakan istilah khas yang biasa dipakai oleh lawan negosiasi kita. Pilihlah kata-kata yang mencerminkan citra yang spesifik dan nyata. Hindari timbulnya makna ganda terhadap kata yang disampaikan.
4.    Umpan balik, negosiator harus menguasai bahasa tubuh pihak lawan. Dengarkan baik-baik reaksi lawan bicara. Amati isyarat prilaku mereka seperti: angkat bahu, geleng–geleng kepala, mencibir, mengaggguk setuju. Umpan balik dapat untuk mengetahui samakah makna yang disampaikan dengan yang ditangkap lawan negosiasi bisnis kita.
5.    Evaluasi, perlu untuk menilai apakah tujuan berkomunikasi/negosiasi sudah tercapai, apakah perlu diadakan lagi, atau perlu menggunakan cara-cara untuk mencapai hasil yang lebih baik.
Meskipun pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik, bukan berarti hasil yang diharapkan akan diperoleh sesuai dengan yang direncanakan semula. Yang sering terjadi justru perbedaan pandangan terhadap cara penyelesaian masalah antara pemberi dan penerima pesan. Sehingga diperlukan pembicaraan lebih lanjut, yang memerlukan perjuangan tersendiri bagi pengirim pesan dalam menyampaikan dan memenangkan pendapatnya.
Kalau terjadi adu pendapat antara negosiator dengan pihak lawan maka timbul dorongan untuk menang. Keinginan untuk menang di satu sisi dengan mengabaikan kekalahan dipihak lainnya, biasanya sulit tercapai. Untuk itu digunakan strategi menang-menang (win-win solution). Artinya ada sebagian keinginan kita yang dikorbankan dengan mengharapkan pihak lawan juga akan mengorbankan hal yang sama, sehingga kesepakatan di antara kedua belah pihak dapat tercapai.

BAB III
KESIMPULAN
Wawancara biasanya dilakukan untuk mengumpulkan data yang ingin kita dapat. Ada juga etika dalam berwawancara, diantaranya adalah memperkenalkan diri terlebih dahulu. Kemudian kita sampaikan maksud dari wawancara yang kita lakukan. Kita juga harus respect kepada orang yang kita tanya sehingga ia merasa nyaman.
Pada hakikatnya negosiasi perlu dilihat dari konteks antar budaya dari pihak yang mela-kukan negosiasi, dalam artian perlu komunikasi lisan, kesedian untuk memahami latar belakng, pola pemi-kiran, dan karakteristik masing-masing, serta kemudian berusaha untuk saling menyesuaikan diri.

DAFTAR PUSTAKA