SOFTSKILL KOMUNIKASI BISNIS
Nama :
Setiana Putri Wulandari
NPM :
1C214761
Kelas :
4EA08
Mata Kuliah : Komunikasi Bisnis
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Istilah komunikasi berasal dari bahasa inggris yaitu
communication, sedangkan dari bahasa latin adalah comunicatus yang mempunyai
arti berbagai atau menjadi milik bersama. Komunikasi diartikan sebagai proses sharing
diantara pihak-pihak yang melakukan aktifitas komunikasi tersebut.
Ilmu komunikasi adalah ilmu
pengethuan sosial yang bersifat multidisipliner, olehnya
itu tidak bias menghindari perspektif dari
beberapa ahli yang tertarik pada kajian
tentang komunikasi, sehingga pengertian dan definisi
komunikasi menjadi semakain banyak dan beragam, tetapi pada dasarnya semua itu
bersi fat saling melengkapi dan menyempurnakan.
Komunikasi secara umum adalah
suatu proses pembentukan, penyampaian, penerimaan,
pengelolaan pesan yang terjadi dalam diri seseorang dan atau
diantara dua atau lebih dengan tujuan tertentu. Artinya bahwa
komunikasi tersebut adalah suatu proses mengenai pembentukan, penyampaian,
penerimaan, dan pengolahan pesan. Setiap pelaku komunikasi
dengan demikian akan melakukan empat
tindakan yaitu: membentuk, menyampaikan, menerima dan
mengolah pesan. Ke-empat tindakan tersebut
lazimnya terjadi secara berurutan. Membentuk pesan
artinya menciptakan sesuatu idea atau gagasan.
Ini terjadi dalam benak kepala seseorang melalui
proses kerja system syaraf. Pesan yang telah
terbentuk ini kemudian disampaikan kepada orang lain
baik secara langsung ataupun tidak langsung. Bentuk dan mengirim pesan,
seseorang akan menerima pesan yang disampaikan oleh orang lain. Pesan yang
diterimanya ini kemudian akan diolah melalui sistem syaraf dan
diinterpretasikan. Setelah diinterpretasikan, pesan tersebut dapat menimbulkan
tanggapan atau reaksi dari orang tersebut. Apabila
ini terjadi, maka si orang tersebut kembali akan
membentuk dan menyampaikan pesan baru.
Pesan adalah produk utama
komunikasi. Pesan berupa lambang-lambang yang menjalankan
ide/gagasan, sikap, perasaan, praktik atau tindakan. Bisa
berbentuk kata-kata tertulis, lisan, gambar-gambar, angka-angka, benda, gerak-gerik
atau tingkah laku dan berbagai bentuk tanda-tanda
lainnya.
Negosiasi merupakan proses untuk
mencapai kesepakatan yang menyangkut kepentingan timbal balik dari
pihak-pihak dengan sikap, sudut pandang, dan kepentingan-kepentingan yang
ber-beda satu sama lain. Negosiasi, baik yang dilakukan oleh seorang pribadi
dengan pribadi lainnya, maupun negosiasi antara kelompok dengan kelompok (atau
antar pemerintah), senantiasa melibatkan pihak-pihak yang memiliki latar
belakang berbeda dalam hal wawasan, cara berpikir, corak perasaan, sikap dan
pola perilaku, serta kepentingan dan nilai-nilai yang dianut. Pada hakikatnya
negosiasi perlu dilihat dari konteks antar budaya dari pihak yang mela-kuka
negosiasi, dalam artian perlu komunikasi lisan, kesedian untuk memahami latar
belakng, pola pemikiran, dan karakteristik masing-masing, serta kemudian
berusaha untuk saling menyesuaikan diri.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang diatas maka didapatkan beberapa rumusan masalah antara lain:
1) Bagaimana
komunikasi lisan dalam rapat?
2) Bagaimana
komunikasi lisan dalam wawancara?
3) Bagaimana
komunikasi dalam bernegosiasi?
1.3 Tujuan
Paper ini
bertujuan untuk:
1) Memberikan
penjelasan mengenai komunikasi lisan dalam rapat.
2)
Memberikan penjelasan mengenai komunikasi
dalam wawancara.
3)
Memberikan penjelasan mengenai
komunikasi dalam bernegosiasi.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Komunikasi Lisan Dalam Rapat
Di dalam suatu pertemuan dan dalam
suatu rapat setiap anggota atau peserta harus menyadari posisinya dalam forum
tersebut. Tiap peserta hendaknya:
· Mampu berperan sebagai penyelaras
yang sangat bijaksana dan adil namun tidak kehilangan pendirian.
· Mampu menjadi komunikator yang
berpartisipasi aktif namun tidak memonopoli pembicaraan.
· Mampu berkomunikasi secara terbuka,
jujur dan bertanggung jawab.
· Mampu menjadi komunikan yang sangat
responsive namun tidak emosional.
· Mampu mengontrol diri, dan
menghindarkan terjadinya debat serta tidak berbicara bertele-tele.
2.2 Komunikasi
Lisan Dalam Wawancara
Misalkan dalam suatu wawancara, kita
melakukan komunikasi dengan seorang yang diwawancara. Dalam wawancara tersebut,
ada pihak yang lebih mencondong memberikan pertanyaan. Wawancara biasanya
dilakukan untuk mengumpulkan data yang ingin kita dapat. Ada juga etika dalam
berwawancara, diantaranya adalah memperkenalkan diri terlebih dahulu. Kemudian
kita sampaikan maksud dari wawancara yang kita lakukan. Kita juga harus respect
kepada orang yang kita tanya sehingga ia merasa nyaman. Berikut ini ialah hal
yang perlu diperhatikan ketika melakukan wawancara:
1.
Gunakan
volume suara yang baik dan terdengar (berbicara tidak terlalu keras).
2.
Hindari
bahasa menggurui responden.
3.
Hindari
sikap rakus.
4.
Fokus
pada lawan bicara.
5.
Fokus
pada pembicaraan.
6.
Tidak
boleh memotong pembicaraan.
7.
Lakukan
verifikasi jika ada kekurangan.
8.
Hindari
kata-kata kasar (kotor).
9.
Bersikap
ramah.
10. Jangan menyakiti hati responden.
11. Hidari tatapan yang
menyelidik/melotot/clingak-clinguk.
12. Ucapkan terima kasih.
2.3 Komunikasi
Lisan Dalam Bernegosiasi
Sebagaimana
kita cukup sering mendengar negosiasi diartikan sebagai proses yang melibatkan
upaya seseorang untuk merubah atau tidak merubah sikap dan perilaku orang lain.
Sedangkan pengertian yang lebih terinci menunjukkan bahwa negosiasi merupakan
proses untuk mencapai kesepakatan yang menyangkut kepentingan timabal balik
dari pihak-pihak dengan sikap, sudut pandang, dan kepentingan-kepentingan yang
berbeda satu sama lain. Negosiasi, baik yang dilakukan oleh seorang pribadi
dengan pribadi lainnya, maupun negosiasi antara kelompok dengan kelompok (atau
antar pemerintah), senantiasa melibatkan pihak-pihak yang memiliki latar
belakang berbeda dalam hal wawasan, cara berpikir, corak perasaan, sikap dan
pola perilaku, serta kepentingan dan nilai-nilai yang dianut. Pada hakikatnya
negosiasi perlu dilihat dari konteks antar budaya dari pihak yang mela-kukan
negosiasi, dalam artian perlu komunikasi lisan, kesedian untuk memahami latar
belakng, pola pemi-kiran, dan karakteristik masing-masing, serta kemudian
berusaha untuk saling menyesuaikan diri.
Agar dalam
berkomunikasi lebih efektif dan mengena sasaran dalam negosiasi bisnis harus
dilaksanakan dengan melalui beberapa tahap yakni:
1. Fact-finding, mengumpulkan
fakta-fakta atau data yang berhubungan dengan kegiatan bisnis lawan sebelum
melakukan negosiasi.
2.
Planning/rencana,
sebelum bernegosiasi/berbicara susunlah dalam garis besar pesan yang hendak
disampaikan. Berdasarkan kerangka topik yang hendak dibicarakan rincilah hasil
yang diharapkan akan teraih.
3.
Penyampaian,
lakukan negosiasi/sampaikan pesan dalam bahasa lawan/si penerima. Usahakan
gunakan istilah khas yang biasa dipakai oleh lawan negosiasi kita. Pilihlah
kata-kata yang mencerminkan citra yang spesifik dan nyata. Hindari timbulnya
makna ganda terhadap kata yang disampaikan.
4.
Umpan
balik, negosiator harus menguasai bahasa tubuh pihak lawan. Dengarkan baik-baik
reaksi lawan bicara. Amati isyarat prilaku mereka seperti: angkat bahu,
geleng–geleng kepala, mencibir, mengaggguk setuju. Umpan balik dapat untuk
mengetahui samakah makna yang disampaikan dengan yang ditangkap lawan negosiasi
bisnis kita.
5.
Evaluasi,
perlu untuk menilai apakah tujuan berkomunikasi/negosiasi sudah tercapai,
apakah perlu diadakan lagi, atau perlu menggunakan cara-cara untuk mencapai
hasil yang lebih baik.
Meskipun
pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik, bukan berarti hasil yang
diharapkan akan diperoleh sesuai dengan yang direncanakan semula. Yang sering
terjadi justru perbedaan pandangan terhadap cara penyelesaian masalah antara
pemberi dan penerima pesan. Sehingga diperlukan pembicaraan lebih lanjut, yang
memerlukan perjuangan tersendiri bagi pengirim pesan dalam menyampaikan dan
memenangkan pendapatnya.
Kalau
terjadi adu pendapat antara negosiator dengan pihak lawan maka timbul dorongan
untuk menang. Keinginan untuk menang di satu sisi dengan mengabaikan kekalahan
dipihak lainnya, biasanya sulit tercapai. Untuk itu digunakan strategi
menang-menang (win-win solution). Artinya ada sebagian keinginan kita yang
dikorbankan dengan mengharapkan pihak lawan juga akan mengorbankan hal yang
sama, sehingga kesepakatan di antara kedua belah pihak dapat tercapai.
BAB
III
KESIMPULAN
Wawancara biasanya dilakukan untuk
mengumpulkan data yang ingin kita dapat. Ada juga etika dalam berwawancara,
diantaranya adalah memperkenalkan diri terlebih dahulu. Kemudian kita sampaikan
maksud dari wawancara yang kita lakukan. Kita juga harus respect kepada orang
yang kita tanya sehingga ia merasa nyaman.
Pada hakikatnya negosiasi perlu dilihat dari konteks antar
budaya dari pihak yang mela-kukan negosiasi, dalam artian perlu komunikasi
lisan, kesedian untuk memahami latar belakng, pola pemi-kiran, dan
karakteristik masing-masing, serta kemudian berusaha untuk saling menyesuaikan
diri.
DAFTAR
PUSTAKA

Tidak ada komentar:
Posting Komentar