Senin, 04 Desember 2017

Komunikasi Dalam Tulisan

SOFTSKILL KOMUNIKASI BISNIS






Nama           : Setiana Putri Wulandari
NPM            : 1C214761
Kelas            : 4EA08
Mata Kuliah : Komunikasi Bisnis


BAB I
PENDAHULUAN
1.1     Latar Belakang
Manusia adalah makhluk sosial dan memerlukan interaksi dengan orang lain. Tanpa disadari setiap hari setiap manusia banyak melakukan interaksi dalam bentuk komunikasi dengan sejumlah orang dan dalam berbagai cara. Bertutur sapa, bertelepon, berwawancara, berdiskusi dan surat menyurat. Itu semua termasuk ke dalam aktivitas yang tidak terlepas dari kehidupan sehari – hari.
Komunikasi secara umum merupakan suatu proses penyampaian – penerimaan pesan antar dua orang atau lebih. Pesan yang disampaikan dapat berupa komunikasi lisan, komunukasi tulisan, komunikasi verbal, komunikasi non verbal. Komunikasi tulisan suatu proses penyampaian pesan komunikasi dengan menggunakan kata-kata dalam bentuk tulisan yang memilki makna tertentu. Jadi dapat dikatakan bahwa komunikasi tulisan adalah kegiatan komunikasi yang menggunakan sarana tulisan yang dapat menggambarkan atau mewakili komunikasi lisan termasuk kedalamnya adalah menulis dan membaca.
1.2     Rumusan Masalah
          Berdasarkan latar belakang diatas maka didapatkan beberapa rumusan masalah antara lain:
            1)   Bagaimana penulisan kabar atau berita?
            2)   Bagaimana penulisan pesan-pesan persuasive?
            3)   Apa yang dimaksud kospondensi (surat menyurat)?
1.3     Tujuan
          Paper ini bertujuan untuk:
            1)   Memberikan penjelasan mengenai penulisan kabar atau berita.
2)   Memberikan penjelasan mengenai penulisan pesan-pesan persuasive.
3)   Memberikan penjelasan mengenai korespondensi (surat menyurat).

BAB II
PEMBAHASAN
2.1     Penulisan Kabar atau Berita
A.      Nilai Berita (News Values)
Sumber berita adalah peristiwa atau kejadian. Namun, tidak semua peristiwa layak jadi berita atau diberitakan di media.
Wartawan memiliki parameter untuk memilih peristiwa mana yang layak diberitakan, yakni nilai berita (news values).
Dalam literatur jurnalistik kita menemukan nilai berita sebagai berikut:
1)   Magnitude. Pengaruh peristiwa bagi publik.
2)   Significance. Penting tidaknya bagi publik.
3)   Actuality. Hangat, akan, sedang, atau baru terjadi.
4)   Proximity. Kedekatan secara geografis dan psikologis dengan pembaca.
5)   Prominence. Popularitas, keterkemukaan, atau ketokohan orang yang terlibat dalam peristiwa.
6)   Human Interest. Menyentuh perasaan kemanusiaan khalayak.
7)   Unique. Keanehan, ketidaklaziman.
8)   Conflict. Bentrokan, perang, gelut, dll.
B.       Unsur Berita
Peristiwa yang bernilai berita kemudian disusun dalam sebuah laporan (naskah berita) dengan memasukkan unsur 5W+1H
·  WHO. Siapa yang terlibat; pelaku, korban, saksi, dll.
·  WHAT. Apa yang terjadi, jenis peristiwa/acara.
·  WHEN. Kapan – Waktu peristiwa berlangsung.
·  WHERE. Tempat – di mana peristiwa terjadi.
·  WHY. Kenapa terjadi – penyeba, tujuan, latar belakang, motif.
·  HOW. Bagaimana kejadiannya – detail peristiwa, kronologis, suasana.
C.       Jenis-Jenis Berita
Jenis-jenis berita cukup banyak. Terpopuler atau paling banyak digunakan wartawan dan ditemui di media:
·       Straight News –berita langsung, apa adanya, singkat dan lugas.
·       Depth News –berita mendalam, lebih lengkap dari berita straight news, dengan penambahan latar belakang, pendapat, data pendukung.
·       Oinion News. Berita Opini, yaitu berita yang berisi pendapat, komentar, penilaian, atau pidato pejabat, tokoh, ahli, mengenai sesuatu masalah atau peristiwa.
D.      Bahasa Berita: Bahasa Jurnalistik
Peristiwa yang bernilai berita disusun dalam naskah berita dengan menggunakan gaya bahasa jurnalistik, bahasa media, atau bahasa pers.
Bahasa jurnalistik memiliki karakteristik ringkas dan lugas (to the point), tidak berbunga-bunga atau bertele-tele.
E.       Struktur Naskah Berita
Naskah berita terdiri dari:
1.    Judul (Head/Headline)
2.    Baris Tanggal (Dateline)
3.    Teras (Lead)
4.    Isi (Body)
2.2     Penulisan Pesan-pesan Persuasive
Persuasi merupakan suatu usaha mengubah sikap, kepercayaan atau tindakan audiens untuk mencapai suatu tujuan. Secara sederhana, persuasi yang efektif adalah kemampuan untuk menyampaiakan suatu pesan di dalam suatu cara yang membuat audiens (pembaca atau pendengar) merasa mempunyai pilihan dan membuat mereka setuju. 
Meskipun kebanyakan pesan-pesan bisnis adalah rutin, namun dalam beberapa situasi tertentu diperlukan pesan yang didesain untuk memotivasi atau memberi persuasi kepada orang lain. Penyampaian pesan ini tidak hanya digunakan untuk kepentingan internal organisasi namun dapat pula digunakan untuk kepentingan eksternal organisasi seperti permintaan atau informasi yang bersifat menyenangkan, atau kegiatan untuk mendapatkan dana dan kerjasama.
Pesan-pesan persuasif bertujuan untuk mempengaruhi audiens yang cenderung mempertahankan ide atau gagasannya. Pesan-pesan persuasif umumnya lebih lama, lebih rinci, dan tergantung pada perencanaan strategis yang cukup ketat. 
Adapun langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam menuliskan pesan-pesan persuasif antara lain:
            a.    Analisis Audiens 
Penyampaian pesan-pesan persuasif yang terbaik adalah dengan cara menhubungkan suatu pesan dengan minat dan hasrat audiens. Untuk mengakomodasi perbedaan individual, maka perlu menganalisis audiens dan kemudian menyusun suatu pesan yang dapat menjadi daya tarik bagi kebutuhan mereka. Cara yang paling mudah dalam menilai kebutuhan audiens adalah dengan berpedoman pada teori kebutuhan dari Maslow yang menyatakan bahwasanya manusia memiliki lima kebutuhan yang sifatnya berjenjang. Dimana tiap-tiap kebutuhan memiliki kualitas atau tingkat kepentingan yang berbeda-beda, mulai dari kebutuhan yang paling dasar hingga kebutuhan yang paling tinggi tingkatannya. 
           b.    Mempertimbangkan Perbedaan Budaya 
Pemahaman terhadap perbedaan budaya yang ada bukan saja akan membantu dalam memuaskan kebutuhan audiens, tetapi juga akan membantu bagaimana mereka akan memberikan penghormatan. Memberikan persuasi untuk budaya yang berbeda akan berbeda cara memberikan persuasinya. 
            c.    Memilih Pendekatan Organisasional 
Agar penyampaian pesan persuasif dapat tempat sasaran dan sesuai dengan apa yang dikehendaki maka perlu diperhatikan cara penyampaiannya kepada audiens, apakah menggunakan pendekatan langsung atau tidak langsung. 
Penggunaan pendekatan organisasional baik langsung maupun tidak langsung dalam penyampaian pesan persuasif harus mampu meyakinkan audiens bahwasannya pesan tersebut dapat dipertanggungjawabkan dan memiliki alasan. 
Persuasi yang efektif mencakup empat komponen penting, yaitu : 
            1)   Menetapkan kredibilitas 
Bagi seorang komunikator tingkat kredibilitas ditentukan oleh sejaumana tingkat kepercayaan dan reabilitas dirinya.  
           2)   Membuat kerangka argumentasi audiens 
Kerangka argumentasi dapat dibuat berdasarkan rencana organisasional AIDA (Attention, Interest, Desire dan Action). 
a.    Attention (Perhatian), meyakinkan audiens dibagian permulaan bahwa ada sesuatu yang akan disampaikan. Memperkenalkan suatu masalah atau ide yang membuat audiens mau mendengar pesan-pesan yang akan disampaikan. 
b.    Interest (Minat), menjelaskan relavansi pesan-pesan yang disampaikan dengan audiens. Mengembangkan pernyataan yang telah disampaikan pada fase pertama secara rinci. Menghubungkan pesan-pesan yang akan disampaikan dengan manfaat secara spesifik yang dapat dinikmati oleh audiens. 
c.     Desire (Hasrat), mengubah keinginan audiens dengan menjelaskan bagaimana perubahan yang dilakukan dapat memberikan manfaat yang lebih baik bagi audiens, dan berusaha untuk mengimplementasikan ide atau gagasan. 
d.    Action (Tindakan), menyarankan tindakan spesifik yang diinginkan terhadap audiens. Perlu juga dipikirkan bagaimana audiens akan memperoleh manfaat dari tindakan yang dilakukan, serta menemukan cara agar tindakan tersebut mudah untuk dilakukan. 
            3)   Memilih Daya Pemikat 
Umumnya pesanpesan persuasif menggunakan daya pemikat dengan logika (logical appeals) dan daya pemikat emosional (emotional appeals) untuk melakukan persuasi audiens. 
Kedua pendekatan ini akan memiliki keseimbangan apabila tergantung pada tindkan yang diharapkan, harapan para audiens, tingkat resistensi yang diatasi, kemampuan menjual ide atau gagasan tersebut. 
a.    Pemikat Emosional 
Dalam melakukan persuasi audiens, dapat memanfaatan emosi yang dilandasi dengan suatu argumentasi atau dalam bentuk simpati kepada audiens sepanjang pemikat emosional bersifat kuat. Dapat menggunakan kata-kata yang sangat berpengaruh pada emosi seseorang seperti kebebasan, keberhasilan, nilai, penghargaan, kenyamanan, dan keamanan. 
b.    Pemikat Logika 
Dalam berbagai hal, penggunaan pendekatan ini dapat dilakukan seperti membuat aduan (claim) dan memberikan dukungan atas aduan tersebut dengan memberikan alasan dan bukti-bukti yang ada. Adapun penggunaan pendekatan ini didasari atas berbagai alasan diantaranya : 
·      Analogi, adalah menggunakan suatu alasan dari bukti-bukti spesifik menuju bukti-bukti fisik pula. 
·      Induksi, adalah memberikan berbagai alasan dari bukti-bukti spesifik menuju kesimpulan umum. 
·      Deduksi, Pemberian alasan dari yang bersifat umum untuk kesimpulan yang khusus. 
c.    Pertimbangan Etika 
Persuasif dapat digunakan untuk mempengaruhi audiens dengan memberikan informasi dan menambah pemahaman mereka dalam berbagai hal. Hal yang paling penting dalam pendekatan ini adalah menunjukkan perhatian yang jujur kepada audiens dengan memenuhi kebutuhan mereka. 
2.2     Korespondensi (surat menyurat)
Korepondensi atau kegiatan surat-menyurat menjadi bagian dari kehidupan organisasi bisnis sehari-hari. Korespondensi dalam bisnis memiliki peranan sebagai berikut:
1)   Menciptakan surat yang baik, jelas dan tepat. Dalam kehidupan sehari-hari, kesalahan dalam penulisan surat masih banyak terjadi. Misalnya, susunan kalimat tidak lengkap, berbelit-belit, tanda baca tidak benar, tata bahasa tidak teratur dan salah mengadopsi bentuk dan model surat. Kesalahan tersebut disebabkan, yaitu:
a.    Tidak ada pengarahan dan pengendalian mengenai cara menulis surat yang baik, baik di lingkungan keluarga maupun organisasi.
b.    Masyarakat sendiri terlalu mudah memaafkan kesalahan dalam penulisan surat. Surat yang semraut bisa menimbulkan kesalahpahaman atau kekacauan yang justru akan menghalangi arus informasi. Kegiatan korespodensi secara tidak langsung merupakan proses pembelajaran dalam menciptakan surat yang baik, jelas dan tepat.
2)   Menciptakan kerja sama yang baik. Perusahaan tidak dapat mencapai tujuan tanpa bekerja sama dengan pihak lain. Agar bisa bekerja sama dengan baik, perusahaan perlu menjaga komunikasi dengan baik. Pihak lain akan mendukung terciptanya kerjasama yang baik.
3)   Menyebarkan kegiatan. Tidak semua orang dalam perusahaan secara otomatis mengetahui kegiatan yang terjadi di dalam perusahaan atau kegiatan yang terjadi antara perusahaan dengan pihak luar. Korespondensi memegang peranan penting dalam menyebarkan kegiatan perusahaan, baik kepada pihak internal maupun eksternal perusahaan.

BAB III
KESIMPULAN
Dalam penulisan kabar atau berita terdapat Nilai Berita (News Values), unsure berita, jenis-jenis berita, bahas aberita, dan struktur naskah berita. Dalam wawancara ada pihak yang lebih mencondong memberikan pertanyaan. Ilmu korespondensi memiliki peran vital dalam kelancaran suatu bisnis. Dengan ilmu korespondensi yang memadai akan menjamin proses surat-menyurat secara lancar sehingga perkembangan bisnis dapat melaju cepat dan siap meraup profit secara maksimal. Dalam menjalankan kegiatan sehari-hari sebuah perusahaan tidak akan terlepas dari kegiatan surat menyurat. Bahkan boleh dikatakan bahwa kegiatan surat menyurat ini adalah merupakan urat nadi dari suatu perusahaan. Dari arus keluar masuk surat ini kita bisa mengukur frekuensi dan intensitas komunikasi yang berlangsung di suatu perusahaan.

DAFTAR PUSTAKA
https://nindisabrina.wordpress.com/2014/11/11/makalah-komunikasi-tulisan/
http://tujuan1.blogspot.co.id/2013/11/penulisan-pesan-pesan-persuasif.html
http://rahmadsalehangkat12.blogspot.co.id/2014/11/korespondensi-bisnis.html
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar