SOFTSKILL KOMUNIKASI BISNIS
JENIS-JENIS KOMUNIKASI
DISUSUN OLEH:
Nama :
Setiana Putri Wulandari
NPM :
1C214761
Kelas :
4EA08
Mata Kuliah : Komunikasi Bisnis
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pertanyaan
mengenai mengapa komunikasi dianggap penting dalam organisasi kerap dilontarkan oleh mereka yang perhatian terhadap
kajian fenomena komunikasi maupun mereka yang tertarik pada gejala-gejala
keorganisasian. Dalam kenyataan masalah komunikasi senantiasa muncul dalam
proses pengorganisasian. Komunikasi mempunyai andil membangun iklim organisasi,
yang berdampak kepada membangun budaya organisasi, yaitu nilai dan kepercayaan
yang menjadi titik pusat organisasi. Tujuan komunikasi dalam proses organisasi
tidak lain dalam rangka membentuk saling pengertian (mutual understanding).
Komunikasi
juga dikatakan sebagai inti dari kepemimpinan. Kepemimpinan yang efektif dapat
dicapai melalui proses komunikasi yang dilakukan oleh pemimpin kepada
anggotanya. Visi pemimpin bisa saja bagus, namun tanpa komunikasi yang efektif,
maka visi tersebut tidak akan pernah bisa terwujud. Dalam mengkomunikasikan
visi, maka pemimpin harus bisa menyampaikan suatu gambaran di masa depan yang
mendorong antusiasme serta komitmen orang lain.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang diatas maka didapatkan beberapa rumusan masalah antara lain:
1)
Bagaimana komunikasi menurut
penyampaiannya?
2)
Bagaimana komunikasi menurut
kelangsungannya?
3)
Bagaimana komunikasi menurut perilaku?
4)
Bagaimana komunikasi menurut maksudnya?
5)
Bagaimana komunikasi menurut ruang
lingkupnya?
6)
Bagaimana komunikasi menurut aliran
informasi?
7)
Bagaimana komunikasi menurut jaringan
kerja?
8)
Bagaimana komunikasi menurut peranan
individu?
9)
Bagaimana komunikasi menurut cara
penyampaiannya?
10) Bagaimana
komunikasi menurut jumlah pelaku dalam komunikasi tersebut?
1.3 Tujuan
Paper ini
bertujuan untuk:
1)
Memberikan penjelasan mengenai
komunikasi menurut penyampaiannya.
2)
Memberikan penjelasan mengenai
komunikasi menurut kelangsungannya.
3)
Memberikan penjelasan mengenai
komunikasi menurut perilaku.
4)
Memberikan penjelasan mengenai
komunikasi menurut maksudnya.
5)
Memberikan penjelasan mengenai
komunikasi menurut ruang lingkupnya.
6)
Memberikan penjelasan mengenai
komunikasi menurut aliran informasi.
7)
Memberikan penjelasan mengenai
komunikasi menurut jaringan kerja.
8)
Memberikan penjelasan mengenai
komunikasi menurut peranan individu.
9)
Memberikan penjelasan mengenai
komunikasi menurut cara penyampaiannya.
10)
Memberikan penjelasan mengenai
komunikasi menurut jumlah pelaku dalam komunikasi tersebut.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Komunikasi Menurut Penyampaiannya
Menurut penyampaian informasi dapat
dibedakan menjadi:
1)
Komunikasi lisan
·
Terjadi
secara langsung dan tidak dibatasi oleh jarak, dimana dua belah pihak dapat
bertatatp muka, misalnya dialog 2 orang, wawancara maupun rapat dan sebagainya.
·
Terjadi
secara tidak langsung karena dibatasi oleh jarak, misalnya komunikasi lewat
telepon dan sebagainya.
2)
Komunikasi tertulis
·
Dilaksanakan
dalam bentuk suratdan dipergunakan untuk menyampaikan berita yang sifatnya
singkat, jelas tetapi dipandang perlu untuk ditulis dengan maksud-maksud
tertentu.
·
Naskah,
yang biasanya dipergunakan untuk menyampaikan berita yang bersifat komplek.
·
Blangko-blangko,
yang dipergunakan untuk mengirimkan berita dalam suatu daftar.
·
Gambar
dan foto, karena tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata atau kalimat.
·
Spanduk,
yang biasa dipergunakan untuk menyampaikan informasi kepada banyak orang.
Dalam
berkomunikasi secara tertulis, sebaiknya dipertimbangkan maksud dan tujuan
komunikasi itu dilaksanakan. Disamping itu perlu juga resiko dari komunikasi
tertulis tersebut, misalnya aman, mudah dimengerti, dan menimbulkan pengertian
berbeda dari yang dimaksud.
2.2 Komunikasi
Menurut Kelangsungannya
Di dalam proses komunikasi dapat kita
ketahui terjadinya interaksi dua belah pihak tersebut sebagai berikut :
1)
Komunikasi
Langsung
Proses komunikasinya dilaksanakan
secara langsung tanpa bantuan perantara orang ketiga ataupun media komunikasi
yang ada dan tidak dibatasi oleh jarak.
2)
Komunikasi
Tidak Langsung
Proses komunikasinya dilaksanakan
dengan bantuan pihak ketiga atau bantuan alat-alat atau media komunikasi.
2.3 Komunikasi
Menurut Perilaku
Komunikasi
merupakan hasil belajar manusia yang terjadi secara otomatis, sehingga
dipengaruhi oleh perilaku maupun posisi seseorang. Menurut perilaku, komunikasi
dapat dibedakan menjadi :
1)
Komunikasi
Formal
Komunikasi yang terjadi diantara
anggota organisasi / perusahaan yang tata caranya telah diatur dalam struktur
organisasinya, misalnya rapat kerja perusahaan, konferensi, seminar dan
sebagainya.
2)
Komunikasi
Informal
Komunikasi yang terjadi di dalam
suatu organisasi atau perusahaan yang tidak ditentukan dalam struktur
organisasi dan tidak mendapat pengakuan resmi yang mungkin tidak berpengaruh
terhadap kepentingan organisasi atau perusahaan, misalnya kabar burung,
desas-desus, dan sebagainya.
3)
Komunikasi
Nonformal
Komunikasi yang terjadi antara
komunikasi yang bersifat formal dan informal, yaitu komunikasi yang berhubungan
dengan pelaksanaan tugas pekerjaan organisasi atau perusahaan dengan kegiatan
yang bersifat pribadi anggota organisasi atau perusahaan tersebut, misalnya
rapat tentang ulang tahun perusahaan, dan sebagainya.
Maka
dapat diketahui bahwa komunikasi formal, informal dan nonformal saling
berhubungan, dimana komunikasi nonformal merupakan jembatan antara komunikasi
formal dengan komunikasi informal yang dapat memperlancar penyelesaian tugas
resmi, serta dapat mengarahkan komunikasi informal kepada komunikasi formal.
2.4 Komunikasi
Menurut Maksudnya
Bila diperhatikan dengan seksama, maka
dapat diketahui bahwa komunikasi dapat terlaksana bila terdapat inisiatif dari
komunikator maka maksud terlaksananya komunikasi lebih banyak ditentukan oleh
komunikator tersebut. Menurut maksud dilakukan komunikasi dapat dibedakan
sebagai berikut:
· Pidato
· Ceramah
· Memberi prasaran
· Wawancara
· Memberi perintah atau tugas
Dengan
demikian jelas bahwa inisiatif komunikator menjadi faktor penentu, demikian
pula kemafipuan komunikator tersebutlah yang memegang peranan keberhasilan
proses komunikasinya.
2.5 Komunikasi
Menurut Ruang Lingkupnya
Ruang lingkup terjadinya komunikasi
merupakan batasan jenis komunikasi ini. Maka dalam komunikasi menurut ruang
lingkup dapat dibedakan sebagai berikut:
1)
Komunikasi
Internal
Komunikasi yang berlangsung dalam
ruang lingkup atau lingkungan organisasi atau perusahaan yang terjadi diantara
anggota organisasi atau perusahaan tersebut saja.
Komunikasi Internal ini dapat
dibedakan menjadi 3 macam yaitu :
1. Komunikasi Vertikal, yaitu komunikasi yang terjadi
dalam bentuk komunikasi dari atasan kepada bawahan, misalnya perintah,
teguran, pujian, petunjuk dan sebagainya.
2. Komunikasi Horisontal, yaitu komunikasi yang terjadi di
dalam ruang lingkup organisasi/ kantor diantara orang-orang yang
mempunyai kedudukan sejajar.
3. Komunikasi Diagonal, yaitu komunikasi yang terjadi di
dalam ruang lingkup organisasi atau kantor diantara orang – orang yang
mempunyai kedudukan tidak sama pada posisi tidak sejalur vertikal.
2)
Komunikasi
Eksternal
Komunikasi yang berlangsung antara
organisasi atau perusahaan dengan pihak masyarakat yang ada di luar organisasi
atau perusahaan tersebut. Komunikasi dengan pihak luar dapat berbentuk :
· Eksposisi, pameran, promosi, publikasi
dan sebagainya
· Konperensi pers( press release)
· Siaran televisi, radio, dan
sebagainya
· Bakti sosial, pengabdian pada
masyarakat, dan sebagainya
Komunikasi eksternal dimaksudkan
untuk mendapat pengertian,kepercayaan, bantuan dan kerjasama dengan masyarakat.
2.6
Komunikasi Menurut Aliran Informasi
Informasi
merupakan muatan yang menjadi bagian pokok dalam komunikasi, oleh karena itu
arah informasi tersebut akan menentukan macam komunikasi yang sedang terjadi.
Komunikasi menurut aliran informasi dapat dibedakan sebagai berikut:
1)
Komunikasi
satu arah ( simplex )
Komunikasi yang berlangsung dari
satu pihak saja (one way communication ). Pada umumnya komunikasi ini
terjadi dalam keadaan mendesak atau darurat atau yang terjadi karena sistem
yang mengaturnya harus demikian, misalnya untuk menjaga kerahasiaan atau untuk
menjaga kewibawaan pimpinan.
2)
Komunikasi
dua arah ( duplex
)
Komunikasi yang bersifat timbal
balik (two ways communication). Dalam hal ini komunikasi diberi
kesempatan untuk memberikan respons atau feed back kepada komunikatornya. Maka
komunikasi ini dapat memberikan kepuasan kedua belah pihak dan dapat
menghindarkan terjadinya kesalah pahaman.
3)
Komunikasi
ke atas
Komunikasi
yang terjadi dari bawahan kepada atasan.
4)
Komunikasi
ke bawah
Komunikasi
yang terjadi dari atasan kepada bawahan.
5)
Komunikasi
ke samping
Komunikasi
yang terjadi diantara orang yang memiliki kedudukan sejajar.
Dengan demikian arah informasi
tersebut akan dianut sebagai bentuk interaksi komunikasinya.
2.7 Komunikasi
Menurut Jaringan Kerja
Di
dalam sebuah organisasi atau perusahaan komunikasi akan terlaksana menurut
sistem yang ditetapkannya dalam jaringan kerja. Komunikasi menurut jaringan kerja
ini dapat dibedakan menjadi:
1)
Komunikasi
jaringan kerja rantai
Komunikasi terjadi menurut saluran
hirarchi organisasi dengan jaringan komando sehingga mengikuti pola komunikasi
formal.
2)
Komunikasi
jaringan kerja lingkaran
Komunikasi terjadi melalui saluran
komunikasi yang berbentuk seperti lingkaran. Saluran komunikasi lebih singkat
dan merupakan kebalikan dari jaringan kerja rantai.
3)
Komunikasi
jaringan bintang
Komunikasi ini terjadi melalui
satu’sentral dan saluran yang dilalui lebih pendek.
2.8 Komunikasi
Menurut Peranan Individu
Komunikasi
yang dilakukan oleh seseorang kepada pihak-pihak lain baik secara kelompok
maupun secara individual. Dalam komunikasi ini peranan individu sangat
mempengaruhi keberhasilan proses komunikasinya. Ada beberapa macam antara lain
:
1)
Komunikasi
antar individu dengan individu yang lain.
Komunikasi ini terlaksana baik
secara nonformal maupun informal, yang jelas individu yang bertindak sebagai
komunikator harus mampu mempengaruhi perilaku individu yang lain.
2)
Komunikasi
antara individu dengan lingkungan yang lebih luas.
Komunikasi ini terjadi karena
individu yang dimaksud memiliki kemampuan yang tinggi untuk mengadakan hubungan
dengan lingkungan yang lebih luas.
3)
Komunikasi
antara individu dengan dua kelompok atau lebih.
Dalam komunikasi ini individu
berperanan sebagai perantara antara dua kelompok atau lebih, sehingga dituntut
kemampuan yang prima untuk menjadi penyelaras yang harmonis.
2.9 Komunikasi
Menurut Cara Penyampaiannya
Jalaluddin
Rakhmat mengatakan bahwa keberhasilan komunikasi sebagian ditentukan oleh
kekuatan pesan. Dengan pesan, seseorang dapat mengendalikan sikap dan perilaku
komunikan. Agar proses komunikasi terlaksana secara efektif, maka perlu
dipertimbangkan berbagai teknik sebagaimana diuraikan berikut ini.
Pesan
satu sisi (one sided) ataukah dua sisi (two sided). Hal ini
berkaitan dengan cara mengorganisasikan pesan. Organisasi pesan satu sisi,
ialah suatu cara berkomunikasi dimana komunikator hanya menyampaikan
pesan-pesan yang mendukung tujuan komunikasi saja. Sedangkan pesan dua sisi,
berarti selain pesan yang bersifat mendukung, disampaikan pula counter argument,
sehingga komunikan diharapkan menganalisis sendiri atas pesan tersebut.
Apakah dalam menyampaikan pesan itu diorganisasikan secara satu sisi atau dua
sisi, tentulah harus disesuaikan dengan karakteristik
Sedangkan
pesan dua sisi, secara teoritis lebih efektif dikarenakan pada karakteristik
pola komunikasi sebagai berikut:
·
Pada awalnya komunikan tidak sepakat dengan
komunikator.
·
Komunikan menyadari argument yang berlawanan
sebelum penyajian pesan, atau sewaktu pesan akan disampaikan.
·
Komunikan memiliki latar pendidikan yang baik
(tinggi).
·
Komunikator menginginkan kejujuran, keterbukaan,
serta objektif dalam pesannya dan tidak terlalu menghiraukan hasil komunikasi
Dalam
menyampaikan pesan, seorang komunikator tidak perlu terlalu ambisi untuk
mencapai hasil segera. Untuk dapat mempengaruhi komunikan secara efektif,
penyampaian pesan perlu memperhatikan langkah-langkah:
1.
Attention (perhatian)
Artinya bahwa pesannya harus dirancang dan disampaikan sedemikian rupa sehingga
dapat menumbuhkan perhatian dari komunikan.
2.
Need (kebutuhan)
Artinya bahwa komunikator kemudian berusaha meyakinkan komunikan bahwa pesan
yang disampaikan itu penting bagi komunikan.
3.
Satisfaction
(pemuasan), dalam hal ini komunikator memberikan bukti bahwa yang
disampaikan adalah benar.
4.
Visualization
(visualisasi) komunikator memberikan bukti-bukti lebih konkret sehingga
komunikan bisa turut menyaksikan.
5.
Action (tindakan),
komunikator mendorong agar komunikan bertindak positif yaitu melak-sanakan
pesan dari komunikator tersebut.
Cara
penyampaian pesan memang berpengaruh terhadap keefektifan proses komunikasi.
Cara penyampaian yang baik, akan memudahkan komunikan dalam menerima dan
memahaminya.
2.10 Komunikasi
Menurut Jumlah Pelaku Dalam Komunikasi
Dilihat
dari jumlahnya, komunikator atau komunikan dapat dibedakan atas satu orang,
banyak orang (kelompok kecil, kelompok besar, atau organisasi), dan massa. Maka
berdasarkan kategori jumlah manusia yang terlibat di dalamnya, komunikasi dapat
terjadi dalam bentuk antarpribadi, kelompok, organisasi, massa dan antarbudaya.
Namun, sebelum terjadi komunikasi antarpribadi, terjadi komunikasi di dalam
diri komunikator, yang kita sebut komunikasi intrapribadi. Penggolongan
berdasarkan hal ini kita sebut tataran komunikasi. Berikut ini adalah
pembahasannya:
1)
Komunikasi Intrapribadi (intrapersonal
communications)
Komunikasi
intrapribadi adalah komunikasi yang terjadi di dalam diri komunikator atau
lazim disebut komunikasi dengan diri sendiri. Misalnya, Anda bertanya kepada
diri sendiri, “Dalam situasi ini, apa yang sebaiknya saya lakukan?” Dalam
komunikasi intrapribadi, Anda bertindak sebagai komunikator dan sekaligus
komunikan, orang kepada siapa pesan komunikator ditujukan. Komunikasi
intrapribadi merupakan dasar komunikasi antarpribadi. Ketika berbicara dengan
orang lain, sesungguhnya Anda telah merampungkan suatu proses berkomu-nikasi
dengan diri sendiri, “Apa yang ingin saya tanyakan? Pesan apa yang akan saya
sampaikan? Bagaimana sebaiknya cara menyampaikannya?” Proses ini berlangsung
dengan cepat, nyaris tanpa disadari lagi, kecuali ketika Anda pertama kali
belajar berbicara atau pertama kali menggunakan bahasa asing yang belum terlalu
Anda kuasai. Dengan selesainya komunikasi intrapribadi, di mana manusia
melakukan tindak komunikasi dengan menyampaikan pesannya, maka ia masuk pada
tataran komunikasi antarpribadi.
2)
Komunikasi Antarpribadi (interpersonal
communications)
Komunikasi
antarpribadi dapat terjadi dalam kon-teks satu komunikator dengan satu
komunikan (komunikasi diadik: dua orang) atau satu komunikator dengan dua
komunikan (komunikasi triadik: tiga orang). Lebih dari tiga orang biasanya
dianggap komunikasi kelompok. Komunikasi antarpribadi dapat berlangsung secara
tatap muka atau menggunakan media komunikasi antarpribadi (nonmedia massa),
seperti telepon. Dalam komunikasi antarpribadi, komunikator relatif cukup
mengenal komunikan, dan sebaliknya, pesan dikirim dan diterima secara simultan
dan spontan, relatif kurang terstruktur, demikian pula halnya dengan umpan
balik yang dapat diterima dengan segera. Dalam tataran antarpribadi, komunikasi
berlangsung secara sirkuler, peran komunikator dan komunikan terus dipertukarkan,
karenanya dikatakan bahwa kedudukan komunikator dan komunikan relatif setara.
Proses ini lazim disebut dialog, walaupun dalam konteks tertentu dapat juga
terjadi monolog, hanya satu pihak yang mendominasi percakapan. Efek komunikasi
antarpribadi paling kuat di antara tataran komunikasi lainnya. Dalam komunikasi
antarpribadi, komunikator dapat mempengaruhi langsung tingkah laku (efek
konatif) dari komunikannya, memanfaatkan pesan verbal dan nonverbal, serta
segera merubah atau menyesuaikan pesannya apabila didapat umpan balik negatif.
3)
Komunikasi Kelompok (group
communications)
Apabila
jumlah pelaku komunikasi lebih dari tiga orang, cenderung dianggap komunikasi
kelompok kecil atau lazim disebut komunikasi kelompok saja. Sedangkan
komunikasi kelompok besar biasa disebut sebagai komunikasi publik. Jumlah
manusia pelaku komunikasi dalam komunikasi kelompok, besar atau kecilnya, tidak
ditentukan secara matematis, melainkan tergantung pada ikatan emosional antar
anggotanya. Dalam komunikasi kelompok, komunikator relatif mengenal komunikan,
dan demikian juga antarkomunikan. Bentuk komunikasi kelompok kecil misalnya
adalah pertemuan, rapat, dan lainlain. Komunikasi kelompok kecil pasti
melibatkan komunikasi antarpribadi, sehingga teori komunikasi antarpribadi juga
berlaku di sini. Umpan balik dapat diterima dengan segera, menentukan
penyampaian pesan berikutnya. Namun, pesan relatif lebih terstruktur daripada
komunikasi antarpribadi, bersifat formal maupun informal. Komunikasi kelompok
sering kita temui dalam keluarga, tetangga, teman dan kerabat, atau kelompok
diskusi. Komunikasi kelompok dapat terjadi di dalam kelompok dan juga
antarkelompok.
4)
Komunikasi dalam Organisasi
Komunikasi
organisasi terjadi di dalam organisasi maupun antarorganisasi, bersifat formal
maupun informal. Semakin formal sifatnya, semakin terstruktur pesan yang
disampaikan. Komunikasi formal adalah komunikasi menurut struktur organisasi:
komunikasi ke atas, ke bawah, maupun horizontal. Sedangkan komunikasi informal
adalah yang terjadi di luar struktur organisasi. Karenanya, komunikasi
organisasi melibatkan komunikasi kelompok, komunikasi antarpribadi, komunikasi
intrapribadi, dan terkadang komunikasi publik juga muncul di dalamnya.
5)
Komunikasi Massa
Komunikasi
massa melibatkan jumlah komunikan yang banyak, tersebar dalam area geografis
yang luas, namun punya perhatian dan minat terhadap isu yang sama. Karena itu,
agar pesan dapat diterima serentak pada waktu yang sama, maka digunakan media
massa seperti surat kabar, majalah, radio, atau televisi. Dalam tataran
komunikasi ini, komunikator dan komunikan serta antarkomunikan relatif tidak
saling kenal secara pribadi, anonim, dan sangat heterogen. Komunikator dapat
berbentuk organisasi (misal, tim redaksi, atau LSM yang menyatakan protes
terhadap sesuatu). Pesan pesannya relatif bersifat umum, disampaikan secara
serentak dan sangat terstruktur. Dalam komunikasi massa, umpan balik relatif
tidak ada atau bersifat tunda. Komunikator cenderung sulit mengetahui umpan
balik komunikan dengan segera. Untuk mengetahuinya, maka biasanya harus
dilakukan survei atau penelitian. Di dalam komunikasi massa terjadi pula
komunikasi organisasi, komunikasi kelompok besar atau pun kecil, komunikasi
antarpribadi, dan komunikasi intrapribadi.
6)
Komunikasi Antarbudaya (intercultural
communication)
Komunikasi antarbudaya
terjadi apabila sebuah pesan (message) yang harus dimengerti dihasilkan
oleh anggota dari budaya tertentu untuk konsumsi anggota dari budaya yang lain.
Definisi lain
bahwa proses komunikasi antarbudaya merupakan interaksi antarpribadi dan
komunikasi antarpribadi yang dilakukan oleh beberapa orang yang memiliki latar
belakang kebudayaan yang berbeda. Apapun definisi yang ada mengenai komunikasi
antarbudaya menyatakan bahwa komunikasi antarbudaya terjadi apabila terdapat
dua budaya yang berbeda dan kedua budaya tersebut sedang melaksanakan proses
komunikasi.
BAB III
KESIMPULAN
Menurut penyampaiannya komunikasi dibedakan menjadi 2;
komunikasi lisan, dan komunikasi tertulis. Di dalam proses komunikasi dapat
kita ketahui terjadinya interaksi dua belah pihak, yakni komunikasi secara
langsung dan secara tidak langsung. Menurut perilaku, komunikasi dapat
dibedakan menjadi komunikasi formal, komunikasi informal, dan komunikasi non
formal.
Bila diperhatikan dengan seksama, maka dapat diketahui bahwa
komunikasi dapat terlaksana bila terdapat inisiatif dari komunikator maka
maksud terlaksananya komunikasi lebih banyak ditentukan oleh komunikator
tersebut. ruang lingkup komunikasi dibagi menjadi komunikasi internal dan
komunikasi eksternal. Informasi merupakan muatan yang menjadi bagian pokok
dalam komunikasi, oleh karena itu arah informasi tersebut akan menentukan macam
komunikasi yang sedang terjadi.
Ada beberapa macam komunikasi menurut peranan individu,
yakni; Komunikasi antar individu dengan
individu yang lain, Komunikasi antara individu dengan lingkungan yang lebih
luas, dan Komunikasi antara individu
dengan dua kelompok atau lebih.
Pesan
satu sisi (one sided) ataukah dua sisi (two sided). Hal ini
berkaitan dengan cara mengorganisasikan pesan. Organisasi pesan satu sisi,
ialah suatu cara berkomunikasi dimana komunikator hanya menyampaikan
pesan-pesan yang mendukung tujuan komunikasi saja. Sedangkan pesan dua sisi,
berarti selain pesan yang bersifat mendukung, disampaikan pula counter argument,
sehingga komunikan diharapkan menganalisis sendiri atas pesan tersebut.
Dilihat
dari jumlahnya, komunikator atau komunikan dapat dibedakan atas satu orang,
banyak orang (kelompok kecil, kelompok besar, atau organisasi), dan massa. Maka
berdasarkan kategori jumlah manusia yang terlibat di dalamnya, komunikasi dapat
terjadi dalam bentuk antarpribadi, kelompok, organisasi, massa dan antarbudaya.
DAFTAR
PUSTAKA
http://samparona.blogspot.co.id/2014/08/cara-penyampaian-pesan-dalam.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar